Akses Air Bersih di Kaltim Baru 52 Persen
Samarinda – Akses air bersih di Kalimantan Timur masih menjadi persoalan serius. Hingga kini, cakupannya baru mencapai 52 persen dari total kebutuhan masyarakat.
Hal itu disampaikan Gubernur Kaltim Rudy Mas’ud saat menghadiri Halalbihalal bersama CEO Arsari Group Hashim Djojohadikusumo di Gedung Rimba Indah, Desa Maridan, Kecamatan Sepaku, Penajam Paser Utara (PPU), Jumat (17/4/2026).
Menurut Gubernur Rudy, rencana Arsari Group membangun tiga waduk di Kaltim menjadi langkah penting untuk menjawab kebutuhan dasar masyarakat, khususnya di Balikpapan dan PPU.
“Program ini sangat tepat. Bisa membantu pemerintah meningkatkan layanan air bersih melalui sistem SPAM,” ujarnya.
Ia mengungkapkan, krisis air bersih saat ini paling terasa di Balikpapan. Bahkan, industri seperti Pertamina harus menyuling air laut karena pasokan air tidak mencukupi.
“Kebutuhan air untuk operasional kilang sangat besar, minimal 3.500 meter kubik per jam,” jelasnya.
Gubernur menilai investasi pembangunan waduk ini sangat strategis karena langsung menyentuh kebutuhan masyarakat. Selain itu, air dari waduk juga berpotensi menambah pendapatan asli daerah (PAD).
“Ini investasi yang membahagiakan. Kami harap segera terealisasi dan bisa dimanfaatkan masyarakat,” harapnya.
Sementara itu, CEO Arsari Group Hashim S Djojohadikusumo mengatakan pembangunan waduk ini sebenarnya sudah dirintis sejak 2016, jauh sebelum adanya Ibu Kota Nusantara (IKN).
Ia menyebut, ada tiga waduk yang direncanakan untuk memenuhi kebutuhan air bersih di wilayah PPU dan Balikpapan.
“Kami ingin memastikan masyarakat mendapatkan air bersih yang cukup,” ujarnya.
Adapun kapasitas produksi air dari proyek ini mencapai 9,5 meter kubik per detik. Rinciannya, 3,5 meter kubik per detik untuk Balikpapan, 1,5 meter kubik per detik untuk PPU, dan 4,5 meter kubik per detik untuk kawasan IKN.
Dengan tambahan pasokan tersebut, diharapkan persoalan air bersih di Kaltim bisa berangsur teratasi.