Subscribe

Wagub Seno Tekan Alarm Karhutla di Paser, Sinergi Tiga Pilar Diuji di Lapangan

2 minutes read

PASER — Upacara HUT ke-107 Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan (Damkar), HUT ke-76 Satpol PP dan HUT ke-64 Satlinmas di halaman Kantor Bupati Paser, Kamis (16/4/2026), berubah menjadi panggung peringatan serius. Ancaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla) belum benar-benar usai.

Wakil Gubernur (Wagub) Kalimantan Timur (Kaltim) Seno Aji yang memimpin langsung jalannya upacara, tak sekadar menyampaikan ucapan seremonial. Ia justru menegaskan bahwa momentum ini adalah “alarm” bagi seluruh pihak untuk memperkuat kesiapsiagaan menghadapi potensi karhutla yang bisa datang kapan saja.

“Ini bukan sekadar perayaan tahunan. Ini momen evaluasi. Kita bicara keselamatan, ketertiban dan kesiapan menghadapi bencana,” tegasnya di hadapan peserta upacara.

Upacara yang dirangkai dengan apel siaga karhutla itu memperlihatkan satu pesan kuat yakni sinergi antara Damkar, Satpol PP dan Satlinmas tidak bisa lagi sebatas slogan. Di lapangan, kolaborasi menjadi penentu cepat atau lambatnya respons saat bencana terjadi.

Seno mengungkapkan, tren kebakaran di Kaltim memang menunjukkan penurunan. Dari 1.021 kejadian pada 2024, turun menjadi 750 kasus di 2025. Meski demikian, ia mengingatkan bahwa angka tersebut belum bisa membuat semua pihak tidak lengah.

“Penurunan ini hasil kerja bersama. Tapi tantangan ke depan tidak lebih ringan. Kita harus tetap siaga,” ujarnya.

Sorotan juga diarahkan pada kesiapan daerah. Seno memberi apresiasi kepada Kabupaten Berau yang telah memiliki Dinas Damkar mandiri. Langkah itu dinilai mampu mempercepat respons saat terjadi kebakaran.

Sebaliknya, daerah lain seperti Balikpapan, Kutai Barat dan Mahakam Ulu didorong untuk segera menyusul. Menurutnya, tanpa kelembagaan yang kuat, penanganan di lapangan akan selalu tertinggal.

Di tengah upacara yang dihadiri Bupati Paser Fahmi Fadli, Wakil Bupati Ikhwan Antasari, serta unsur Forkopimda, pesan yang muncul jelas, ancaman karhutla bukan isu musiman, melainkan ujian konsistensi.

Tema “Mengabdi untuk Keselamatan Negeri” dan “Trantibumlinmas Tangguh untuk Pembangunan Berkelanjutan” pun terasa relevan, bukan sekadar jargon. Sebab di balik barisan rapi dan seremoni, ada tuntutan nyata, kesiapan personel, kecukupan peralatan dan kecepatan bertindak.

Peringatan ini akhirnya menjadi pengingat keras, ketika api muncul, yang dibutuhkan bukan lagi seremoni, melainkan sistem yang benar-benar siap bekerja.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *