Subscribe

Buntu! Perundingan AS-Iran di Pakistan Gagal Capai Kesepakatan, Selat Hormuz Masih Membara

2 minutes read

Pakistan, nusaetamnews.com :  Diplomasi tingkat tinggi antara Amerika Serikat (AS) dan Iran berakhir tanpa hasil manis. Wakil Presiden AS, J.D. Vance, mengonfirmasi bahwa perundingan tatap muka di Pakistan gagal mencapai kesepakatan, terutama terkait status jalur perdagangan vital, Selat Hormuz.

Kegagalan ini membuat gencatan senjata sementara yang disepakati pekan lalu berada di ambang kolaps, memicu kekhawatiran baru akan stabilitas ekonomi global.

Deadlock di Jalur Strategis

Perundingan yang berlangsung hingga Minggu (12/04/2026) ini mempertemukan J.D. Vance dengan Ketua Parlemen Iran, Mohammad Bagher Qalibaf. Isu Selat Hormuz menjadi tembok besar yang menghalangi kedua belah pihak.

  • Posisi Iran: Menolak membuka kembali Selat Hormuz kecuali ada “kerangka bersama” yang disepakati. Pejabat Iran menuding tuntutan AS terlalu berlebihan.
  • Dampak Global: Penutupan selat ini telah mengguncang pasar energi dunia. Sekitar 20 persen pasokan minyak dunia biasanya melewati jalur ini, dan blokade Iran telah memicu lonjakan harga BBM dan gas alam yang gila-gilaan.

Gencatan Senjata yang “Rapuh”

Meskipun Presiden Donald Trump mendesak jaminan pelayaran bebas di selat tersebut, situasi di lapangan tetap panas. AS mengklaim gencatan senjata tidak mencakup operasi Israel terhadap Hizbullah di Lebanon—sebuah celah yang dianggap Iran sebagai pelanggaran komitmen.

“Kami kembali tanpa kesepakatan,” tegas J.D. Vance singkat kepada wartawan saat bersiap meninggalkan lokasi perundingan menuju AS.

Ancaman Ranjau dan Kehadiran Militer

Situasi kian mencekam setelah militer AS mengerahkan dua kapal perusak untuk persiapan operasi pembersihan ranjau di Selat Hormuz. Iran membantah keberadaan ranjau tersebut, namun intelijen Barat khawatir ranjau yang dipasang oleh Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) akan membuat jalur tersebut tetap berbahaya bagi kapal tanker meskipun blokade berakhir.

Diplomasi Ring 1 Trump

Keseriusan AS dalam perundingan ini terlihat dari delegasi yang dibawa Vance, termasuk utusan khusus Steve Witkoff dan sosok kunci Jared Kushner. Di sisi lain, Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi turut mendampingi Qalibaf dalam meja perundingan yang dimediasi oleh Pakistan tersebut.

Tanpa kesepakatan baru, dunia kini bersiap menghadapi kemungkinan eskalasi militer lebih lanjut dan ketidakpastian harga energi yang bisa memukul ekonomi Asia hingga Eropa. (ant/one)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *