Menteri LH “Lapor” ke Gubernur, Populasi Pesut Mahakam Naik Jadi 66 Ekor
JAKARTA — Ada momen tak biasa dalam pertemuan Menteri Lingkungan Hidup (LH) sekaligus Kepala Badan Pengendalian Lingkungan Hidup (BPLH) Hanif Faisol Nurofiq dengan Gubernur Kalimantan Timur, Rudy Mas’ud di Command Center Kementerian LH di Jakarta, Jumat (10/4/2026).
Alih-alih menerima laporan, Gubernur Rudy justru “dilapori” langsung oleh Menteri Hanif Faisol. Isinya bukan soal administrasi, melainkan kabar menggembirakan dari jantung biodiversitas Kalimantan. Populasi Pesut Mahakam bertambah.
“Pak Gubernur, kami laporkan pesutnya nambah empat. Lahir tujuh, mati tiga. Jadi sekarang 66 ekor. Alhamdulillah, ini juga berkat kepedulian Pak Gubernur,” puji Hanif.
Laporan itu bukan sekadar angka. Ia menjadi indikator awal bahwa pendekatan kolaboratif antara pemerintah pusat, daerah, dan masyarakat mulai menunjukkan hasil nyata. Terlebih, kawasan habitat Pesut Mahakam di Kabupaten Kutai Kartanegara kini telah ditetapkan sebagai kawasan konservasi.
“Ini bukan hanya milik Kalimantan Timur, tapi milik Indonesia,” tegas Hanif, seraya memastikan komitmen bersama untuk menjaga keberlangsungan spesies endemik tersebut.
Beberapa waktu lalu, populasi pesut sempat berada di angka kritis, hanya sekitar 62 ekor. Dalam klasifikasi International Union for Conservation of Nature (IUCN), pesut masuk kategori critically endangered atau satu tingkat sebelum kepunahan di alam liar.
Satwa ini juga tercantum dalam Appendiks I CITES, yang berarti dilindungi secara ketat dari perdagangan internasional.
Tekanan terhadap habitatnya tidak ringan. Aktivitas perikanan destruktif seperti penggunaan setrum dan bom, hingga jaring yang tidak ramah lingkungan, menjadi penyebab utama kematian pesut. Di sisi lain, degradasi ekosistem sungai dan danau mempersempit ruang hidup mereka.
Padahal, tiga dekade lalu, pesut masih mudah dijumpai di tepian Sungai Mahakam, bahkan di kawasan Samarinda. Kini, kemunculannya terbatas di sekitar Sungai Pela dan Danau Semayang.
Sebelumnya, pada 3 Juli 2025, Gubernur Rudy Mas’ud dan Menteri Hanif Faisol berkunjung ke Desa Pela, Kecamatan Kota Bangun, Kabupaten Kutai Kartanegara. Menteri Hanif menegaskan bahwa pelestarian tidak bisa berhenti pada seremoni.
“Menteri datang bukan untuk seremoni, tapi mengeksekusi apa yang harus dieksekusi,” tegasnya kala itu.
Langkah konkret pun diambil. Empat pegiat lingkungan lokal diangkat sebagai tenaga ahli untuk memastikan pemantauan berlangsung setiap hari. Mereka menjadi perpanjangan tangan kementerian dalam menjaga ekosistem secara langsung di lapangan.
Selain itu, penguatan regulasi dilakukan melalui sinergi kewenangan pemerintah pusat dengan UU 32/2009 tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup, serta pemerintah daerah dengan UU 32/2014 tentang Pemerintahan Daerah.
Gubernur Rudy Mas’ud menegaskan dukungan penuh terhadap upaya penyelamatan pesut. Baginya, satwa ini bukan sekadar ikon, melainkan simbol keanekaragaman hayati Kalimantan Timur yang harus dijaga lintas generasi.
“Pesut Mahakam bukan hanya kebanggaan, tapi simbol biodiversitas Kaltim. Harus kita jaga dan lestarikan,” ujarnya.
Ia juga menyoroti karakter biologis pesut yang membuatnya rentan punah. Usia maksimal sekitar 40 tahun dengan frekuensi reproduksi yang sangat terbatas, hanya dua hingga tiga kali sepanjang hidup.
Dalam konteks ini, setiap kelahiran menjadi sangat berharga, sekaligus menegaskan pentingnya menjaga habitat tetap aman dan kondusif.
Upaya penyelamatan Pesut Mahakam juga mendapat perhatian dunia. Sejumlah mitra internasional seperti United Nations Development Programme dan United Nations Environment Programme turut hadir dan memberikan dukungan.
Namun, di atas segalanya, keberhasilan konservasi tetap bertumpu pada aksi lokal, terutama masyarakat Desa Pela yang selama ini menjadi garda terdepan menjaga ekosistem danau dan sungai.
Kenaikan populasi menjadi 66 ekor mungkin belum signifikan secara statistik. Tetapi, di tengah ancaman kepunahan, angka itu adalah sinyal penting, bahwa kerja nyata, kolaborasi, dan konsistensi dapat mengubah arah dari krisis menuju harapan.