AS – Iran Bertemu Malam Ini, Israel Diprediksi Bakal ‘Goyang’ Gencatan Senjata
Teheran, nusaetamnews.com : Kota Islamabad, Pakistan, resmi menjadi panggung diplomasi tingkat tinggi antara Iran dan Amerika Serikat. Perundingan krusial yang dijadwalkan mulai Sabtu (11/4) malam ini diprediksi menjadi penentu stabilitas kawasan Timur Tengah pasca-deklarasi gencatan senjata sementara.
Meski demikian, Teheran mengirim sinyal kuat bahwa mereka tidak akan berkompromi pada poin-poin yang merugikan kedaulatan mereka.
Skuad ‘Full Team’ di Meja Perundingan
Kedua negara mengirimkan delegasi kelas berat, menunjukkan betapa strategisnya pertemuan ini bagi pemerintahan Donald Trump maupun kepemimpinan di Iran.
Delegasi Iran:
- Ketua: Mohammad-Bagher Ghalibaf (Ketua Parlemen).
- Anggota: Abbas Araghchi (Menlu), Ali Akbar Ahmadian (Sekjen Dewan Keamanan Nasional), dan Abdolnaser Hemmati (Gubernur Bank Sentral).
Delegasi Amerika Serikat:
- Ketua: J. D. Vance (Wakil Presiden AS).
- Anggota: Steve Witkoff (Utusan Khusus) dan Jared Kushner (Menantu sekaligus orang kepercayaan Trump).
Selat Hormuz Jadi ‘Chip’ Negosiasi Utama
Pertemuan satu hari ini merupakan tindak lanjut dari gencatan senjata dua pekan yang diumumkan Presiden Trump pada Selasa (7/4) lalu. Langkah berani langsung diambil Menlu Araghchi dengan mengumumkan pembukaan kembali Selat Hormuz.
Langkah ini menjadi “napas lega” bagi ekonomi dunia, mengingat Selat Hormuz merupakan jalur urat nadi yang memasok sekitar 20 persen kebutuhan minyak dan LNG global.
Teheran Siap Skenario Terburuk
Meski Pakistan bertindak sebagai mediator untuk mewujudkan perdamaian abadi, Iran menegaskan tidak akan tampil dengan tangan kosong atau posisi lemah. Stasiun televisi pemerintah, IRIB, melaporkan bahwa delegasi Iran telah mengantisipasi segala kemungkinan hasil dari Islamabad.
“Delegasi Iran siap menghadapi hasil apa pun, termasuk kemungkinan tidak ada kesepakatan sama sekali (deadlock),” tulis laporan tersebut.
Poin Penting Perundingan:
- Format: Pertemuan akan digelar secara langsung (face-to-face) maupun tidak langsung melalui mediator.
- Misi Pakistan: Berupaya mendinginkan suhu politik Timur Tengah yang sempat membara akibat eskalasi militer bulan lalu.
- Fokus Ekonomi: Kehadiran Gubernur Bank Sentral Iran mengisyaratkan adanya pembahasan serius terkait sanksi ekonomi dan akses keuangan global.
Dunia kini menanti apakah “The Art of the Deal” ala Trump melalui J.D. Vance dan Kushner mampu melahirkan resolusi permanen, ataukah pertemuan di Islamabad hanya akan menjadi perpanjangan jeda konflik semata.
Israel Diprediksi Bakal ‘Goyang’ Gencatan Senjata AS-Iran, Lebanon Jadi Titik Panasdi
Ditempat terpisah, Mantan Duta Besar Inggris untuk Suriah, Peter Ford, memprediksi Israel akan berupaya keras menggagalkan kesepakatan gencatan senjata terbaru antara Amerika Serikat dan Iran. Meski demikian, ambisi Tel Aviv tersebut diyakini bakal membentur tembok besar.
Menurut Ford, ada dua faktor kunci yang membuat manuver Israel kali ini jauh lebih sulit dibandingkan sebelumnya.
Trump Bukan ‘Boneka’ Manipulasi
Ford menilai Donald Trump—yang kini kembali memegang kendali di Gedung Putih—bukanlah sosok yang mudah disetir untuk kepentingan sepihak.
“Israel tentu akan mencoba menggagalkan upaya tersebut. Namun, mereka menghadapi tantangan baru: Trump tak akan mudah dimanipulasi, dan sejarah membuktikan Iran tak bisa dipaksa tunduk hanya dengan pengeboman,” tegas Ford kepada RIA Novosti.
Lebanon: Hambatan Utama Kesepakatan
Situasi di Lebanon selatan diprediksi akan menjadi “kerikil dalam sepatu” bagi stabilitas kawasan. Hingga saat ini, Israel terus menggempur target-target Hizbullah, yang terbaru menyasar belasan permukiman termasuk kota Tyre pada Rabu lalu.
- Dilema Netanyahu: Perdana Menteri Israel menganggap penarikan diri dari Lebanon sebagai tindakan memalukan, sehingga terus mempertahankan sikap keras.
- Garis Merah Iran: Teheran menganggap serangan Israel ke Lebanon sebagai pelanggaran nyata terhadap gencatan senjata yang baru disepakati dengan AS.
Gencatan Senjata yang ‘Rapuh’
Kesepakatan yang diumumkan Trump pada Selasa malam lalu mencakup poin-poin krusial namun berisiko tinggi:
- Gencatan Senjata 2 Pekan: Penghentian serangan langsung antara AS dan Iran.
- Open Gate Selat Hormuz: Pembukaan kembali jalur logistik energi paling vital di dunia.
- Pengecualian Hizbullah: Trump menegaskan penghentian serangan Israel ke Lebanon tidak termasuk dalam kesepakatan karena keterlibatan Hizbullah.
“Keseimbangan kekuatan baru bisa terguncang. Kekuatan Iran yang meningkat kini berhadapan langsung dengan sikap keras kepala Netanyahu,” tambah Ford.
Kilas Balik Eskalasi
Ketegangan memuncak pada 28 Februari lalu saat AS dan Israel melancarkan serangan udara ke Teheran yang memakan korban jiwa warga sipil. Iran membalas dengan menghujani wilayah Israel dan fasilitas militer AS di Timur Tengah dengan rudal.
Kini, dunia menunggu apakah gencatan senjata dua pekan ini menjadi awal perdamaian atau justru sekadar “jeda iklan” sebelum ledakan konflik yang lebih besar pecah di tanah Lebanon. (ant/one)