Deadline Selat Hormuz Memanas! Iran Siapkan “Counter-Response” Atas Rencana 15 Poin AS
Teheran, nusaetamnews.com : Ketegangan antara Teheran dan Washington memasuki babak baru yang krusial. Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmaeil Baghaei, menyatakan pada Senin (6/4/2026) bahwa pihaknya telah merampungkan draf respons terhadap 15 poin rencana perdamaian yang diajukan Amerika Serikat (AS).
Meski begitu, Teheran masih memilih untuk menyimpan rapat rincian jawaban tersebut dan hanya akan mengungkapnya pada “waktu yang tepat”.
Tolak Tuntutan “Nggak Masuk Akal”
Rencana 15 poin dari AS tersebut kabarnya sampai ke tangan Iran melalui perantara Pakistan dan beberapa negara sahabat. Namun, Baghaei menegaskan bahwa banyak poin dalam proposal tersebut yang dianggap melampaui batas.
“Kami sudah tegaskan bahwa rencana tersebut berisi tuntutan yang sangat berlebihan, tidak biasa, dan tidak masuk akal,” ujar Baghaei dalam konferensi pers mingguan di Teheran.
Walaupun ada beberapa syarat yang dianggap “masih bisa diterima”, Iran tetap mematok Garis Merah yang tidak boleh dilanggar demi menjaga kepentingan nasional mereka.
Ancaman Balasan Donald Trump
Situasi kian mendidih setelah Presiden AS, Donald Trump, memberikan peringatan keras melalui Wall Street Journal, Minggu (5/4). Trump mengancam akan menghancurkan seluruh infrastruktur pembangkit listrik Iran jika Selat Hormuz tidak segera dibuka kembali pada Selasa (7/4) malam waktu setempat.
Kilas Balik Konflik:
- 28 Februari 2026: Serangan gabungan AS-Israel menewaskan Pemimpin Tertinggi Ali Khamenei dan sejumlah komandan senior Iran.
- Respon Iran: Gelombang serangan rudal dan drone besar-besaran yang menyasar aset Israel serta AS di Timur Tengah.
Opsi Gencatan Senjata 45 Hari
Di tengah ancaman saling hancur, muncul secercah harapan melalui jalur belakang (backchannel). Laporan Axios menyebutkan bahwa AS, Iran, dan mediator regional tengah mendiskusikan peluang gencatan senjata selama 45 hari.
Target dari gencatan senjata sementara ini adalah membuka jalan menuju “penghentian perang secara permanen”. Namun, dengan deadline pembukaan Selat Hormuz yang jatuh pada malam ini (7/4), publik internasional kini menanti apakah diplomasi atau eskalasi militer yang akan memenangkan situasi di Timur Tengah. (ant/one)