Dari Kesehatan hingga Hunian Modern, Kawasan Terpadu Baru Siap Mengubah Wajah Samarinda
Samarinda – Kota Tepian bersiap memasuki babak baru pembangunan kota. Sebuah kawasan terpadu tengah digodok di Jalan DI Panjaitan, menawarkan konsep “kota dalam satu kawasan” yang menggabungkan layanan kesehatan, pendidikan, hingga perhotelan dalam satu hamparan lahan.
Proyek seluas kurang lebih 6 hektare ini diproyeksikan menjadi magnet baru aktivitas di Kota Tepian, sekaligus menjawab kebutuhan fasilitas modern yang terintegrasi.
Asisten II Sekretariat Kota Samarinda Marnabas Patiroy mengungkapkan kawasan tersebut tidak hanya akan menghadirkan infrastruktur megah, tetapi juga dirancang dengan konektivitas yang lebih luas. Salah satunya dengan membuka akses tembus ke kawasan Gunung Lingai.
“Ke depan tidak hanya bergantung pada Jalan DI Panjaitan. Kita harapkan ada akses alternatif agar mobilitas lebih lancar,” ujarnya usai paparan bersama investor, Rabu 25 Maret 2026.
Di dalam kawasan itu, akan berdiri rumah sakit jaringan Siloam bertaraf internasional yang menjadi tulang punggung layanan kesehatan. Tak hanya itu, dua hotel dengan kelas berbeda, bintang tiga dan bintang lima masing-masing sekitar 200 kamar, juga akan melengkapi wajah kawasan tersebut. Fasilitas pendidikan pun turut masuk dalam rencana pengembangan.
Namun di balik ambisi besar tersebut, Pemkot Samarinda memberi garis tegas, pembangunan tidak boleh sekadar mengejar nilai investasi, tetapi harus memperhatikan daya dukung lingkungan.
Salah satu poin yang ditekankan adalah kewajiban penyediaan ruang terbuka hijau (RTH) dalam proporsi yang memadai dari total kawasan. Pemerintah ingin memastikan kawasan ini tetap nyaman, sejuk, dan layak huni bagi masyarakat.
“Ruang terbuka hijau harus jadi bagian dari desain utama. Bukan hanya pelengkap, tapi kebutuhan untuk menjaga kualitas lingkungan,” tegas Marnabas.
Selain itu, potensi kemacetan juga menjadi perhatian serius. Mengingat lokasi berada di jalur strategis, perencanaan akses keluar masuk kawasan harus benar-benar matang agar tidak menambah beban lalu lintas.
Persoalan klasik Samarinda, yakni banjir, juga tak luput dari sorotan. Investor diminta menghadirkan sistem drainase dan kolam retensi yang benar-benar berfungsi, bukan sekadar formalitas dalam dokumen perencanaan.
“Pengendalian air harus jelas. Jangan sampai saat hujan justru menimbulkan masalah baru,” tegas Marnabas.
Kehadiran rumah sakit berskala besar juga membawa konsekuensi pengelolaan limbah medis yang ketat. Pemerintah mengingatkan agar seluruh proses pengolahan limbah mengikuti standar yang berlaku demi mencegah pencemaran lingkungan.
Saat ini, proyek masih berada dalam tahap kajian dan perizinan. Pemkot memastikan setiap detail akan dikaji, termasuk ketinggian bangunan yang harus menyesuaikan aturan keselamatan penerbangan.
Di tengah geliat investasi yang terus masuk, Pemkot Samarinda menegaskan komitmennya untuk menjaga keseimbangan antara pertumbuhan ekonomi dan kelestarian lingkungan.
“Investasi kita dorong, tapi aturan harus dipatuhi. Lingkungan dan kenyamanan masyarakat tidak boleh dikorbankan,” pungkas Marnabas.