Subscribe

Sangkulirang-Mangkalihat Menuju Geopark Nasional, 26 Ribu Km² Jadi Tantangan Besar

2 minutes read

SAMARINDA – Luasnya bukan main. Kawasan Sangkulirang-Mangkalihat yang diusulkan menjadi Geopark Nasional kini memiliki bentang sekitar 26.643,11 kilometer persegi di Kutai Timur dan Berau.
Angka itu sekaligus menjadi kekuatan dan pekerjaan rumah besar.

Semakin luas kawasan yang dikelola, semakin rumit pula urusannya. Mulai dari koordinasi antarinstansi, pengelolaan situs, keterlibatan masyarakat, hingga menjaga agar kepentingan konservasi, budaya dan ekonomi tidak berjalan sendiri-sendiri.

Persoalan itulah yang mengemuka dalam Focus Group Discussion (FGD) hasil verifikasi lapangan dan tindak lanjut usulan Geopark Nasional Sangkulirang-Mangkalihat, Selasa (8/9/2026).

Anggota Tim Verifikasi Geopark Nasional (TVGN) Kementerian ESDM Aris Kusworo mengingatkan bahwa luasan kawasan bisa menjadi modal besar, tetapi sekaligus berpotensi membuat pengelolaan terfragmentasi.

“Semakin luas suatu kawasan, semakin banyak juga keragaman masyarakat dan budaya yang terlibat dalam pengelolaan,” ujarnya.

Karena itu, menurut Aris, dukungan masyarakat di Kutai Timur dan Berau menjadi bagian penting sebelum usulan tersebut diajukan untuk mendapatkan persetujuan sebagai Geopark Nasional. Bukan hanya soal administrasi, kesepakatan para pihak juga harus jelas.

“Harapannya dalam berita acara ini tidak ada yang tidak sepakat dengan adanya Geopark Sangkulirang-Mangkalihat,” tegasnya.

Diperluas, Bukan Sekadar Dipercantik

Pasca-verifikasi lapangan pada 6–10 Juli 2026, Badan Pengelola Geopark melakukan sejumlah pembenahan.

Delineasi kawasan kini diperbarui menjadi sekitar 26.643,11 km², termasuk memasukkan Kawasan Bentang Alam Karst (KBAK) Kutai Timur.

Jumlah geotrail juga bertambah dari sebelumnya 12 menjadi 13. Yang menarik, konsep besar geopark ikut dirombak. Tema “Ketika Gondwana dan Sundaland Bertemu” diganti menjadi “Ketika Daratan dan Lautan Bertemu.”

Perubahan ini membuat narasi geopark tidak berhenti pada cerita geologi. Storyline diarahkan untuk menghubungkan tiga kekuatan utama kawasan, yakni geologi, keanekaragaman hayati dan budaya.
Artinya, geopark tidak diposisikan semata sebagai kawasan dengan bentang alam unik untuk dikunjungi wisatawan.

Ada ekosistem yang harus dijaga, situs yang harus dilindungi, budaya masyarakat yang harus dipertahankan, sekaligus potensi ekonomi yang bisa dikembangkan.

Sekretaris Daerah Kaltim Sri Wahyuni meminta pengelola tidak berhenti setelah tahapan verifikasi.

Menurutnya, pekerjaan berikutnya justru memastikan kawasan tersebut memiliki nilai yang semakin kuat dan bisa memberikan dampak bagi daerah maupun masyarakat.

“Sinergi kita tidak berhenti, tetapi kita lanjutkan untuk pengembangan berkelanjutan,” katanya.

Penyempurnaan selanjutnya mencakup pembaruan daftar situs, keanekaragaman hayati, warisan budaya, destinasi potensial, hingga informasi warisan budaya takbenda.
Tata kelola organisasi dan kemitraan juga dibenahi.

Sebab, dengan kawasan mencapai lebih dari 26 ribu kilometer persegi, tantangan terbesar Sangkulirang-Mangkalihat bukan lagi sekadar mendapat label Geopark Nasional, tetapi memastikan label tersebut benar-benar punya arti bagi alam, budaya, pariwisata dan masyarakat yang hidup di dalamnya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *