Rudy : Literasi Bukan Sekadar Membaca, Tapi Paham dan Bijak
SAMARINDA – Kalimantan Timur masuk PPjajaran tujuh besar nasional dalam pembangunan literasi masyarakat. Berdasarkan kajian nasional 2025 yang dirilis Perpustakaan Nasional Republik Indonesia, Indeks Pembangunan Literasi Masyarakat (IPLM) Kaltim mencapai 44,11, menempatkan Benua Etam di posisi ketujuh dari 38 provinsi.
Namun, capaian tersebut dinilai belum menjadi alasan untuk berpuas diri. Di tengah derasnya arus informasi digital, tantangan literasi justru semakin kompleks.
Gubernur Kaltim Rudy Mas’ud mengatakan capaian IPLM 44,11 menunjukkan pembangunan literasi di Kaltim terus bergerak. Tetapi, penguatan literasi harus dilakukan lebih jauh, terutama dalam menghadapi banjir informasi di media sosial.
Menurutnya, definisi literasi tidak bisa lagi berhenti pada kemampuan membaca dan menulis. Masyarakat harus memiliki kemampuan memahami, menyaring hingga menggunakan informasi secara tepat.
Sebab, derasnya informasi di ruang digital juga membawa persoalan baru berupa informasi keliru dan disinformasi.
“Pemahaman kita tentang literasi juga harus terus berkembang. Literasi hari ini jauh lebih luas. Masyarakat tidak cukup hanya mampu membaca, tetapi juga harus mampu memahami, menyaring, dan menggunakan informasi secara bijak,” pesan Gubernur Rudy Mas’ud saat hadir dalam Gerakan Literasi Kalimantan Timur di Aula Dispora Kaltim, Minggu (30/8/2026).
Rudy menyoroti kebiasaan masyarakat di media sosial yang kerap memberikan respons hanya berdasarkan judul atau potongan informasi tanpa membaca isi secara utuh.
“Apalagi di era media sosial ini, informasi begitu cepat. Baru membaca judul saja, belum membaca isi, komen langsung panjang,” ungkapnya.
Karena itu, ia mendorong generasi muda Kaltim tidak berhenti sebagai konsumen informasi. Anak muda harus mampu mengolah informasi menjadi gagasan dan karya yang bermanfaat.
“Kepada anak-anak serta generasi muda Kaltim, kami titip satu pesan, jangan hanya menjadi pengguna informasi. Jadilah pencipta informasi dan pencipta karya,” pesannya.
Rudy juga meminta gerakan literasi tidak berhenti pada kegiatan seremonial. Literasi harus menjadi kebiasaan yang tumbuh dari lingkungan sehari-hari, mulai dari keluarga, sekolah, desa dan kelurahan, komunitas hingga tempat kerja.
Kepala Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kaltim Lisa Hasliana mengatakan Festival Literasi Kaltim menjadi momentum memperkuat kolaborasi berbagai pihak dalam membangun ekosistem literasi secara berkelanjutan.
Gerakan tersebut diarahkan tidak hanya untuk meningkatkan minat dan kegemaran membaca, tetapi juga memperkuat kecakapan literasi masyarakat.
Pemerintah, keluarga, satuan pendidikan, komunitas, dunia usaha dan masyarakat dinilai memiliki peran yang sama dalam membangun budaya literasi.
Sementara itu, Bunda Literasi Kaltim Sarifah Suraidah Harum menilai makna literasi harus terus diperluas mengikuti perubahan zaman.
Literasi, kata dia, tidak lagi sebatas buku, perpustakaan, membaca dan menulis. Masyarakat harus dibekali kemampuan menghadapi persoalan kehidupan yang semakin kompleks.
“Anak-anak kita hidup di tengah banjir informasi. Mereka berhadapan dengan media sosial, teknologi digital, kecerdasan buatan, berbagai macam informasi, sekaligus disinformasi,” kata Suraidah.
Karena itu, literasi juga perlu menyentuh berbagai aspek kehidupan, mulai dari kesehatan, keuangan, lingkungan, budaya hingga teknologi. Kemampuan berpikir kritis menjadi bagian penting agar masyarakat tidak mudah menerima informasi begitu saja.
“Literasi juga berkaitan dengan pembentukan karakter seseorang, agar mampu menentukan informasi maupun tindakan yang baik bagi dirinya dan orang lain,” terangnya.
Sarifah Suraidah berharap Gerakan Literasi Kaltim berkembang menjadi budaya belajar sepanjang hayat. Fondasinya, menurut dia, harus dimulai dari tempat paling dekat: keluarga dan rumah.
Dari sana, budaya literasi diharapkan tumbuh ke sekolah, komunitas hingga masyarakat luas.