Menenun Wajah Baru Kota Tepian: Ikhtiar Andi Harun Menyulap Jalanan Samarinda
BAGI siapa saja yang sempat meninggalkan Samarinda beberapa tahun lalu dan baru kembali hari ini, bersiaplah untuk pangling. Kota Tepian yang dulu kerap diidentikkan dengan kemacetan panjang di jam sibuk dan genangan air pasca-hujan, perlahan tapi pasti, sedang bersolek rupa.
Di bawah komando Wali Kota Andi Harun, pembangunan jalan bukan lagi sekadar urusan menggelar aspal hitam atau menuang semen cor. Di tangan pria yang dikenal visioner ini, infrastruktur jalan adalah urat nadi yang sedang ditata ulang demi menjemput masa depan Samarinda sebagai kota penyangga utama Ibu Kota Nusantara (IKN).
Membuka Sumbatan Menahun
Bicara soal kemacetan di Samarinda, ingatan warga lokal pasti langsung tertuju pada kawasan Gunung Manggah di Jalan Otto Iskandardinata. Tanjakan curam yang padat ini bertahun-tahun menjadi momok, baik karena kemacetan parah maupun risiko kecelakaan logistik.
Merespons jeritan menahun itu, Andi Harun mengambil langkah taktis: memecah arus dengan membuka jalur alternatif baru. Lahirlah Jalan Penghubung Merdeka – Sambutan (Sultan Alimuddin) sepanjang 2,5 kilometer.
“Dulu kalau mau ke Sambutan lewat Gunung Manggah harus siap-siap sabar karena macetnya mengular. Sekarang lewat jalur baru ini jauh lebih plong dan cepat,” ujar warga Sambutan, dengan senyum sumringah.
Tidak berhenti di situ, Pemkot Samarinda kini juga tengah mematangkan rencana jalan pendekat dari Bandara APT Pranoto langsung menuju Kecamatan Sambutan. Langkah ini bukan sekadar mengurai macet, melainkan sengaja dirancang untuk melahirkan episentrum pertumbuhan ekonomi baru di pinggiran kota.
Jalan dan Drainase: Dua Sisi Koin yang Tak Terpisahkan
Satu hal yang membedakan gaya kepemimpinan Andi Harun adalah prinsip integrasi. Di masa lalu, perbaikan jalan dan perbaikan parit sering berjalan sendiri-sendiri—jalan ditinggikan, paritnya tertinggal, walhasil banjir tetap datang.
Kini, setiap kali ada proyek peningkatan atau pelebaran jalan protokol, rekonstruksi sistem drainase di bawahnya berupa pemasangan box culvert raksasa menjadi paket wajib yang tak boleh ditawar. Hasilnya mulai terasa. Di beberapa titik yang dulunya langganan banjir parah, air kini mengalir lebih cepat, membuat aspal jalan berusia lebih panjang karena tidak sering terendam.
Sentuhan hingga ke Gang Sempit
Hebatnya, deru buldozer dan beton pematangan jalan tidak hanya terdengar di jalur-jalur protokol yang mentereng. Lewat program andalannya, Probebaya (Program Pembangunan dan Pemberdayaan Masyarakat Komunitas Berbasis RT), anggaran diturunkan langsung hingga ke tingkat paling bawah.
Dampaknya instan dan nyata. Jalan-jalan gang yang dulunya becek saat hujan dan berdebu saat kemarau kini berganti menjadi jalan semen yang mulus. Warga di pelosok RT tidak perlu lagi menunggu birokrasi bertahun-tahun hanya untuk memperbaiki jalan di depan rumah mereka.
Estetika Kota Penyangga IKN
Puncak dari transformasi infrastruktur ini barangkali paling jelas terlihat di sepanjang Tepian Mahakam. Melalui proyek ambisius Teras Samarinda, Jalan Gajah Mada disulap dari kawasan yang dulunya kumuh dan tak tertata menjadi jalur pedestrian modern yang hijau, estetik, dan ramah disabilitas.
Ditopang oleh lompatan APBD Samarinda yang mencatatkan sejarah di angka Rp5 triliun lebih pada tahun 2025, Andi Harun sukses membuktikan bahwa Samarinda tidak mau sekadar menjadi penonton di samping kemegahan IKN.
Kota Tepian sedang bersiap, melangkah pasti di atas jalanan yang kini lebih lebar, lebih kokoh, dan tentu saja, lebih ramah bagi warganya. (one)