Apa Kabar Terowongan Selili?
PROYEK besar sering kali dimulai dengan tepuk tangan dan harapan tinggi. Namun, ketika garis finis terus bergeser, publik berhak bertanya: apakah ini sebuah solusi kelancaran, atau justru monumen penundaan yang baru?
Janji manis penguraian kemacetan di kawasan Samarinda Ilir dan sekitarnya sempat membuncah saat proyek Terowongan Selili (terowongan Samarinda) pertama kali digulirkan. Sebagai salah satu proyek infrastruktur paling ambisius di Kota Tepian, terowongan ini digadang-gadang menjadi jawaban mutakhir bagi urat nadi transportasi warga yang bertahun-tahun tersendat.
Namun, seiring berjalannya waktu, antusiasme itu perlahan berubah menjadi tanya besar yang menggantung di benak masyarakat: Sampai di mana progresnya sekarang?
Antara Target dan Realitas di Lapangan
Menengok ke belakang, proyek ini kerap diwarnai dinamika yang menguras energi. Mulai dari urusan pembebasan lahan yang pelik, penyesuaian teknis geologis di dalam perut bumi, hingga urusan sosial dampak lingkungan bagi warga sekitar lokasi proyek. Redaksi mencatat, tenggat waktu demi tenggat waktu sempat mencuat ke permukaan, namun realitas di lapangan sering kali memaksa kalender proyek ditulis ulang.
Pemerintah kota dan pihak kontraktor memang berulang kali menegaskan bahwa progres terus berjalan. Alat berat masih menderu, dan pengerjaan struktur interior terus diupayakan. Namun, bagi masyarakat awam yang setiap hari harus berjibaku dengan debu konstruksi, penyempitan jalan, dan kemacetan dampak sekunder proyek, kalkulasi persentase di atas kertas tidaklah cukup. Yang mereka butuhkan adalah kepastian kapan kendaraan mereka bisa benar-benar melintas di bawah bukit Selili.
Menguji Transparansi dan Komitmen
Membangun terowongan menembus perbukitan tentu bukan perkara mudah seperti membalik telapak tangan. Kita harus objektif melihat tantangan teknis yang dihadapi para insinyur di lapangan. Risiko pergeseran tanah dan pengelolaan drainase agar terowongan tidak menjadi “kolam raksasa” saat hujan melanda Samarinda adalah hal krusial yang tidak boleh dikorbankan demi mengejar kata “cepat”. Keamanan adalah harga mati.
Namun, yang menjadi sorotan kritis redaksi adalah aspek akuntabilitas dan komunikasi publik.
- Minimnya Update Berkala: Publik jarang disuguhkan lini masa yang transparan mengenai hambatan apa yang sebenarnya sedang terjadi saat ini.
- Manajemen Dampak Lingkungan: Bagaimana kompensasi dan penanganan jangka panjang bagi warga yang terdampak langsung oleh getaran dan kebisingan proyek?
Jangan sampai proyek strategis ini terkesan berjalan dalam senyap, lalu tiba-tiba muncul dengan kabar penundaan target baru.
Menagih Garis Finis
Terowongan Selili bukan sekadar proyek beton dan semen; ia dibiayai oleh uang rakyat melalui APBD yang nilainya fantastis. Setiap hari keterlambatan berarti ada nilai ekonomi warga yang terbuang sia-sia di tengah kemacetan yang seharusnya sudah terurai.
Redaksi mendesak Pemerintah Kota Samarinda dan seluruh stakeholder terkait untuk tidak sekadar memberi angin segar berupa klaim “sudah sekian persen”. Berikan masyarakat sebuah kepastian yang terukur.
Kita tentu tidak ingin Terowongan Selili bernasib sama dengan beberapa proyek infrastruktur di Indonesia yang megah di awal, namun “engos-engosan” di akhir. Sudah saatnya ritme kerja ditingkatkan tanpa mengurangi standar keselamatan. Warga Samarinda sudah cukup sabar menanti. Jadi, bagaimana kabar (pasti) Terowongan Selili hari ini, Pak Wali? (setia wirawan)