Subscribe

Jaga Tradisi Leluhur, Warga Adat Kutai Kartanegara Gelar Ritual ‘Nutuk Beham’

2 minutes read

Kutai Kartanegara, nusaetamnews.com :  Masyarakat adat Kutai Lawas di Desa Kedang Ipil, Kabupaten Kutai Kartanegara, Kalimantan Timur, kembali menggelar tradisi tahunan Nutuk Beham. Ritual ini digelar sebagai bentuk rasa syukur atas melimpahnya hasil panen padi, sekaligus upaya konkret merawat warisan leluhur di era modern.

“Kita harus selalu ingat dengan asal-usul warisan leluhur. Tujuannya agar tradisi penghormatan terhadap proses mengolah beras ini bisa terus berlanjut dan dipahami oleh generasi muda,” ujar Tokoh Adat Desa Kedang Ipil, Sartin, Minggu (7/6).

Menurut Sartin, pelestarian budaya ini bukan sekadar rutinitas, melainkan wujud eksistensi warga dalam menjaga kearifan lokal yang sarat nilai spiritual.

Prosesi Tiga Hari Penuh Gotong Royong

Prosesi Nutuk Beham dimulai dengan menyortir bulir-bulir padi pilihan yang telah direndam. Padi tersebut kemudian disangrai secara massal di atas perapian tradisional hingga mengeluarkan aroma harum yang khas.

“Setelah didinginkan secukupnya, warga desa bahu-membahu menumbuk padi ketan tersebut di dalam lesung kayu berukuran besar secara bergantian,” jelas Sartin.

Proses pengolahan ini memakan waktu hingga tiga hari penuh untuk memastikan kualitas beras ketan yang dihasilkan benar-benar bersih sempurna. Selain menghasilkan pangan, interaksi intensif selama berhari-hari ini secara alami mempererat tali persaudaraan dan solidaritas antarwarga.

Resmi Jadi Warisan Budaya Takbenda Indonesia

Komitmen kuat masyarakat dalam menjaga ritual turun-temurun ini mendapat apresiasi dari pemerintah pusat. Nutuk Beham kini resmi ditetapkan sebagai salah satu Warisan Budaya Takbenda (WBTb) Indonesia dari wilayah Kalimantan Timur.

Kepala Balai Pelestarian Kebudayaan (BPK) Wilayah XIV Kalimantan Timur, Lestari, menegaskan bahwa status ini harus diikuti dengan aksi nyata.

“Selain melindungi, kita semua juga harus mengembangkan serta memanfaatkan bagaimana cara memfasilitasi berbagai kegiatan pengembangan dari pesta adat yang membanggakan ini,” kata Lestari.

Pihaknya juga mendorong adanya regulasi formal dari pemerintah daerah guna memberikan perlindungan hukum bagi masyarakat adat saat melaksanakan ritual tahunan ini.

Lebih dari sekadar pesta panen, Nutuk Beham menyimpan pesan filosofis yang kuat tentang lingkungan. “Nilai historis mengenai larangan membuang beras sembarangan terus diajarkan kepada anak cucu guna menanamkan rasa hormat terhadap kelestarian alam,” pungkas Lestari.

Sebagai puncak acara, beras hasil tumbukan bersama tersebut langsung dimasak dan dihidangkan hangat untuk dinikmati bersama oleh seluruh warga desa serta wisatawan yang datang berkunjung. (ant/one)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *