Gebrakan ‘Emas Hijau’: Kaltim Serius Hilirisasi Kratom Jadi Komoditas Ekspor Kelas Dunia
Samarinda, nusaetamnews.com : Pemerintah Provinsi Kalimantan Timur (Pemprov Kaltim) resmi tancap gas untuk menjadikan tanaman Kedemba atau Kratom (Mitragyna speciosa) sebagai “senjata baru” ekonomi nonmigas. Tak sekadar menjual bahan mentah, Kaltim kini membidik strategi hilirisasi untuk mendongkrak nilai tambah komoditas yang dijuluki Emas Hijau Kalimantan ini.
Wakil Gubernur Kaltim, Seno Aji, menegaskan bahwa langkah ini adalah bagian dari transformasi ekonomi berkelanjutan. “Ini bukan cuma soal ekspor, tapi strategi diversifikasi ekonomi berbasis SDA yang berkelanjutan,” ujar Seno saat menerima audiensi dari PT Borneo Riseta Naturafarm dan PT DJB Botanicals Indonesia di Samarinda, Selasa.
Cuan Melejit: Dari Jutaan Jadi Miliaran
Dalam pertemuan tersebut, Dr. Islamudin Ahmad dari PT Borneo Riseta Naturafarm memaparkan data yang cukup mencengangkan terkait potensi “cuan” dari kratom jika diproses secara industrial (hilirisasi).
Berikut perbandingan nilai ekonominya:
| Bentuk Produk | Estimasi Pendapatan/Hektar/Tahun |
| Daun Segar (Raw Materials) | Rp80 Juta – Rp120 Juta |
| Ekstrak Terstandar (Hilirisasi) | Rp2,3 Miliar – Rp5,7 Miliar |
“Hilirisasi adalah kunci. Dengan mengubah bahan mentah menjadi produk farmasi atau ekstrak berkualitas, nilainya bisa naik ribuan kali lipat. Ini peluang nyata yang didukung validasi ilmiah,” jelas Islamudin.
Indonesia Kuasai 80% Pasar Dunia
Bukan rahasia lagi jika Indonesia adalah pemain utama di pasar kratom global. Haris Wafa dari PT DJB Botanicals mengungkapkan bahwa 80 persen pasokan kratom dunia berasal dari tanah air, dengan permintaan tertinggi datang dari:
- Amerika Serikat & Eropa: Untuk industri herbal.
- India & Thailand: Untuk ekstraksi bahan alam.
PT DJB Botanicals sendiri sudah memulai langkah ini sejak 2019 sebagai pionir eksportir di Kaltim yang mengantongi izin resmi Kemendag. Saat ini, pabrik mereka di Kutai Kartanegara mampu mengolah hingga 8 ton per hari melalui mesin disk mill.
Visi “East Borneo Botanicals Corridor”
Target jangka panjangnya bukan hanya kratom. Para pelaku industri mendorong terbentuknya East Borneo Botanicals Corridor. Ini adalah konsep kolaborasi regional di wilayah timur Kalimantan untuk mengoptimalkan potensi tanaman endemik lainnya secara terintegrasi, seperti:
- Tahongai (Kleinhovia hospita)
- Bawang Dayak
- Senyawa aktif seperti Nuciferine dan Arecoline.
Komitmen Pemprov: Regulasi dan Pendanaan
Menanggapi potensi besar tersebut, Wagub Seno Aji memastikan pemerintah tidak akan tinggal diam. Pemprov Kaltim berkomitmen mengawal aspek regulasi dan siap mengucurkan dukungan pendanaan agar industri ini memberikan dampak maksimal bagi daerah.
“Kami serius. Dalam waktu dekat, saya akan meninjau langsung fasilitas produksi dan laboratorium di L3 Tenggarong Seberang. Saya ingin memastikan industrinya benar-benar siap sebelum kita melangkah lebih jauh,” pungkas Seno.(ant/one)