Emak-Bapak Guru Go Digital! Disdikbud Kaltim Wajibkan Tenaga Pendidik Mandiri Bikin Website dan Aplikasi Sekolah
SAMARINDA – Era guru cuma modal kapur atau spidol di papan tulis sudah lewat. Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Provinsi Kalimantan Timur kini resmi mengarahkan para tenaga pendidik di Bumi Etam untuk tancap gas membangun dan mengelola platform digital profesional secara mandiri.
Langkah berani ini diambil demi mendongkrak kualitas pengajaran sekaligus memodernisasi sistem informasi sekolah di era digital yang bergerak super cepat.
“Di era digital, platform seperti website sekolah, sistem informasi, hingga aplikasi pembelajaran menjadi hal yang sangat penting. Jadi, yang harus membangun dan merawatnya adalah para tenaga pendidik itu sendiri,” tegas Kepala UPTD Teknologi Komunikasi dan Informasi Pendidikan Disdikbud Kaltim, Muchamad Awaludin, di Samarinda, Minggu (14/6).
Hasil Kolaborasi Bareng PANDI dan id.academy
Nggak sekadar kasih perintah, Disdikbud Kaltim langsung membekali para pahlawan tanpa tanda jasa ini lewat pelatihan intensif bertema “Membangun Platform Digital Profesional dari Nol”. Program ini merupakan hasil kolaborasi ciamik dengan Pengelola Nama Domain Internet Indonesia (PANDI) dan id.academy yang baru saja rampung digelar di Samarinda.
Lewat pelatihan tersebut, para guru dari berbagai satuan pendidikan langsung dibimbing mempraktikkan ilmu perancangan laman daring (website) untuk diterapkan ke dalam sistem tata kelola sekolah masing-masing. Kemandirian operasional ini dinilai krusial karena fasilitas digital sudah bergeser menjadi kebutuhan dasar dalam menunjang pelayanan publik.
“Adaptasi terhadap teknologi itu ibarat belajar naik sepeda, butuh keberanian ekstra untuk memulai langkah pertama. Jadi, fase jatuh bangun saat mencoba merancang laman resmi instansi itu wajar, justru akan semakin mengasah insting teknis para pengajar,” filosofi Awaludin.
Siap Jadi Agen Perubahan dan Berbagi Ilmu
Pemerintah Provinsi Kaltim menaruh harapan besar pada program ini. Guru-guru yang sudah “lulus” dan matang kompetensi IT-nya kini menyandang status baru sebagai agen perubahan di sekolahnya masing-masing.
Pemprov Kaltim menargetkan adanya efek domino (multiplier effect) yang positif dari investasi SDM ini. Artinya, para guru yang telah menguasai keterampilan baru tersebut wajib menularkan ilmunya ke rekan sejawat, operator sekolah, hingga komunitas pendidikan yang lebih luas.
Lewat gerakan gotong royong digital ini, ekosistem teknologi pendidikan lokal di Kalimantan Timur diharapkan bisa melompat lebih maju dan adaptif terhadap masa depan. (ant/one)