Subscribe

Bukan Cuma Pajangan Museum, BPK Kaltim Ajak Generasi Muda Jaga Ekosistem Musik Sampe

2 minutes read

Samarinda, nusaetamnews.com : Balai Pelestarian Kebudayaan (BPK) Kalimantan Timur terus bergerak aktif merawat dan melestarikan sampe, alat musik tradisional petik khas suku Dayak yang menjadi salah satu identitas penting budaya bangsa.

Kepala BPK Kaltim, Lestari, menegaskan bahwa menyelamatkan sampe tidak bisa dilakukan dengan cara-cara lama yang kaku. Musik ini harus tetap hidup dan dimainkan oleh masyarakat.

“Pelestarian sampe tidak cukup hanya dengan memasukkannya ke dalam etalase museum, melainkan harus memastikan bahwa ekosistem budayanya tetap bernapas di tengah masyarakat,” ujar Lestari di Samarinda, Senin.

Lebih dari Sekadar Alat Musik

Alat musik petik ini punya banyak nama unik di berbagai daerah, mulai dari sampek, sape, sampe, hingga kecapi. Di balik dawainya, sampe merekam jejak interaksi mendalam antara manusia, alam, dan dinamika sosial yang ada.

Dibuat dari kayu pilihan asli hutan Kalimantan, sampe bukan sekadar instrumen penghibur di kala senggang. Ada nilai spiritual dan filosofi mendalam yang tertanam di dalamnya.

  • Relasi Magis: Memiliki ikatan kuat dengan peradaban dan spiritualitas masyarakat Dayak.
  • Simbol Ragam Hias: Ukiran dan motif pada tubuh sampe melambangkan daya upaya, kebesaran, serta keagungan masyarakat yang hidup harmonis dengan alam sekitar.

Tantangan Pelestarian: Hindari Pendekatan Kaku

Lestari mengingatkan bahwa ancaman terbesar bagi kelangsungan budaya lokal justru sering datang dari metode pelestarian yang kaku tanpa melibatkan komunitas akar rumput (grassroots). Untuk itu, pemerintah kini memosisikan diri sebagai fasilitator yang mendukung penuh inisiatif dari masyarakat bawah.

Di sisi lain, masyarakat juga diimbau untuk tetap terbuka. Jangan sampai terjebak dalam sikap enggan berubah (inersia) yang bisa memicu pengerasan identitas primordial dan mengancam integrasi sosial budaya di Indonesia. Bagi BPK Kaltim, kebudayaan yang dipadukan dengan karya kreatif seperti sampe adalah proses transformasi yang dinamis, bukan sekadar warisan masa lalu yang kaku.

Masuk Kurikulum Sekolah hingga Panggung Populer

Agar sampe tetap eksis di masa depan, strategi pelestarian harus masuk ke dalam sistem yang lebih dekat dengan anak muda.

“Pengarusutamaan kebudayaan tersebut harus ditanamkan secara sistemik sejak dini melalui jalur pendidikan, agar perlindungan terhadap sampe sejalan dengan pemanfaatan di masyarakat,” tutur Lestari.

Ke depan, eksistensi ekosistem musik sampe akan terus diperkuat melalui berbagai lini:Panggung perayaan adat yang sakral, aAjang pariwisata daerah. Atraksi budaya populer kontemporer agar bisa bersaing di era modern. (ant/one)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *