Subscribe

Bahlil: Jangan Lambat, Indonesia Butuh Migas dan Energi di Tengah Krisis Global

3 minutes read

Tangerang – Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia berharap Indonesian Petroleum Association (IPA) mampu memberikan kontribusi yang lebih besar bagi pengembangan bisnis energi nasional di tengah situasi geopolitik dunia yang makin tidak menentu.
Menurut Bahlil, dunia saat ini sedang berada dalam tekanan berat. Konflik di Timur Tengah antara Israel dengan Lebanon, serta ketegangan Israel dan Amerika Serikat melawan Iran, belum juga mereda. Di Eropa, perang Rusia dan Ukraina terus berlangsung tanpa kepastian akhir. Situasi itu memicu guncangan geopolitik dan geoekonomi global yang berdampak hampir ke seluruh negara, termasuk Indonesia.
“Politik global sekarang penuh ketidakpastian. Bukan hanya negara yang sedang berperang, tapi hampir semua negara ikut terdampak,” tegasnya.
Di tengah tekanan global tersebut, Indonesia masih mampu mencatat pertumbuhan ekonomi yang kuat. Pada kuartal I 2026, ekonomi nasional tumbuh 5,61 persen dengan inflasi terjaga di angka 2,4 persen. Capaian itu disebut menjadi salah satu yang tertinggi di antara negara-negara G20.
Bahlil menegaskan, pencapaian tersebut tidak lepas dari kontribusi besar sektor energi, khususnya industri hulu migas, yang terus menopang penerimaan negara, menciptakan lapangan kerja dan menggerakkan ekonomi nasional melalui efek berganda.
“Kita harus akui, sektor energi dan pengusaha hulu migas punya kontribusi besar terhadap APBN dan pertumbuhan ekonomi nasional,” katanya.
Namun di balik capaian itu, Indonesia masih menghadapi tantangan besar di sektor energi. Konsumsi BBM nasional saat ini mencapai sekitar 1,6 juta barel per hari, sementara lifting minyak masih berada di bawah 600 ribu barel per hari, jauh dari kebutuhan nasional.
Artinya, Indonesia masih harus mengimpor sekitar 1 juta barel minyak per hari untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri.
“Kondisi ini tidak bisa dibiarkan terus. Kita harus mencari alternatif energi lain dan tidak boleh hanya bergantung pada energi fosil,” ujarnya.
Pemerintah pun mulai mendorong percepatan transisi energi. Salah satunya melalui program mandatori E10 dan E20 dengan mencampurkan etanol ke dalam bahan bakar bensin.
Bahlil mengungkapkan kebutuhan bensin nasional saat ini mencapai 39 hingga 40 juta kiloliter per tahun. Dari jumlah itu, sekitar 20 juta kiloliter masih dipenuhi lewat impor.
“Sebagian impor itu akan kita konversi ke etanol,” katanya.
Ia juga menegaskan bahwa pada 2026 Indonesia sudah tidak lagi mengimpor solar biasa, kecuali solar berkualitas tinggi seperti C51.
Dalam kesempatan itu, Bahlil memberi peringatan keras kepada perusahaan yang sudah mengantongi izin konsesi migas namun belum menjalankan proyeknya.
“Kami minta tolong, semua yang sudah mendapatkan izin konsesi dan POD-nya selesai, segera dieksekusi. Jangan ditahan-tahan,” tegasnya.
Menurutnya, peningkatan lifting migas nasional harus menjadi agenda bersama agar target produksi 900 ribu barel per hari dapat tercapai.
Karena itu, ia meminta SKK Migas terus melakukan pembenahan regulasi agar proses investasi dan produksi tidak terhambat birokrasi.
“Kalau ada staf di bawah yang bikin lambat, ganti orangnya. Jangan bikin pusing. Tapi kalau pengusahanya yang nakal, juga harus ditertibkan. Kita butuh semua berjalan baik,” sentil Bahlil.
Ia juga menyoroti pentingnya pemanfaatan teknologi untuk meningkatkan produksi migas, terutama di Kalimantan Timur yang mayoritas sumurnya sudah tua.
Salah satu potensi besar yang kini menjadi harapan baru nasional berada di Blok Ganal dengan cadangan gas diperkirakan mencapai 5 hingga 7 triliun kaki kubik (TCF). Blok tersebut akan dikelola perusahaan migas asal Italia, Eni.
Selain itu, Bahlil mengingatkan agar SKK Migas dan seluruh KKKS membangun hubungan yang harmonis dengan pemerintah daerah, baik gubernur, bupati maupun wali kota.
Menurutnya, kolaborasi pusat dan daerah menjadi kunci agar investasi energi berjalan cepat dan tidak terhambat di lapangan.
“Semua harus bergandengan tangan menyelesaikan persoalan energi nasional ini. Kita tidak boleh jalan sendiri-sendiri,” pungkasnya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *