Subscribe

Gempur Karhutla dan Kabut Asap, BNPB Tebar 3 Ton Garam di Langit Kaltim Hingga Sekolah Dialihkan Daring

2 minutes read

Samarinda, nusaetamnews.com : Badan Nasional Penanggulangan Bencana makin gencar menggelar Operasi Modifikasi Cuaca demi memicu hujan buatan di wilayah Kalimantan Timur. Langkah cepat ini diambil buat menekan dampak kebakaran hutan dan lahan serta kekeringan ekstrem yang belakangan menyelimuti sejumlah daerah.

Tenaga Ahli Kepala BNPB, Marsma TNI Albertus Irianto, mengungkapkan pihaknya telah menyiagakan tiga ton Natrium Klorida atau garam sebagai bahan semai. Awan potensi hujan terus diburu agar kondisi udara di wilayah terdampak bisa segera membaik. Penyemaian awan pun disebar secara intensif menyasar Kabupaten Kutai Kartanegara, Kutai Timur, Kota Samarinda, Balikpapan, Kutai Barat, hingga Penajam Paser Utara.

Analis meteorologi mencatat potensi pertumbuhan awan hujan di Kaltim saat ini berada di angka 50 sampai 70 persen. Meski begitu, pemantauan kondisi atmosfer dan titik panas tetap dilakukan secara paralel dan ketat.

Di sisi lain, lonjakan karhutla akibat cuaca kering ekstrem memang membutuhkan penanganan ekstra keras. Kepala Pelaksana BPBD Kaltim, Buyung Dodi Gunawan, menyebut kawasan lahan gambut jadi fokus utama karena butuh pendekatan khusus agar titik panas tak membesar menjadi kebakaran hebat.

Dampak asap dari karhutla ini rupanya makin terasa mengkhawatirkan di ibu kota provinsi. Kepala Laboratorium Kesehatan Kaltim, Muhammad Yunus, membeberkan bahwa angka Indeks Standar Pencemar Udara di Kota Samarinda sudah masuk kategori Tidak Sehat akibat parameter PM2,5. Kualitas udara bahkan berpotensi memburuk pada malam hingga dini hari lantaran fenomena inversi suhu yang menjebak polutan asap di permukaan udara. Warga pun diimbau untuk mengurangi aktivitas di luar ruangan.

Merespons memburuknya polusi udara, Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kaltim mengambil langkah tegas demi melindungi keselamatan para siswa. Plt Kepala Disdikbud Kaltim, Armin, mengonfirmasi kebijakan pengalihan kegiatan belajar mengajar dari tatap muka menjadi Pembelajaran Jarak Jauh atau sekolah daring. Kebijakan belajar dari rumah ini diterapkan di wilayah terdampak seperti Kota Samarinda mulai tanggal 17 hingga 19 September 2026 demi menghindarkan anak-anak dari risiko ISPA. (ant/one)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *