Subscribe

Mal Lembuswana Menuju Bangkit, Rudy Ajak Masyarakat Belanja dan Hidupkan Lagi Kejayaannya

3 minutes read

SAMARINDA – Mal Lembuswana tak ingin lagi sekadar berdiri sebagai bangunan besar di jantung Kota Samarinda. Setelah kembali ke tangan Pemprov Kaltim, pusat perbelanjaan itu dibidik untuk bangkit dan kembali menjadi magnet ekonomi warga.
Gubernur Kaltim Rudy Mas’ud bahkan memasang target sederhana mal harus nyaman, ramai, hidup, lalu menghasilkan pendapatan asli daerah (PAD).

Pemprov Kaltim resmi mengambil alih pengelolaan Mal Lembuswana pada 7 Agustus 2026 setelah kerja sama dengan PT Cipta Sumina Satresna (CSIS) berakhir. Pengelolaannya kini dipercayakan kepada Perusda PT Kalimantan Timur Melati Bakti Satya (KTMBS).

Rudy turun langsung mengecek kondisi mal, Rabu (9/9/2026). Hampir seluruh lantai disisir. Tenant diajak berbincang, fasilitas diperiksa, dan sejumlah pekerjaan rumah langsung ditandai.

“Kita akan hidupkan kembali masa kejayaan Mal Lembuswana,” tegas Rudy.

Pembenahan tak mau dilakukan setengah-setengah. Pendingin ruangan, penerangan, toilet hingga akses jalan di kawasan mal masuk daftar pekerjaan awal.
Bahkan soal jalan, Rudy memberi tenggat hanya 10 hari.

“Pak Iing, tolong hitamkan semua jalan di sini. Biar pengunjung nyaman masuk sini,” perintahnya kepada Plt Kepala Dinas PUPR Kaltim Irhamsyah.

Dinas PUPR Kaltim diminta segera mengerjakan perbaikan melalui UPTD terkait. Jika sesuai target, sekitar 20 September jalan di lingkungan Mal Lembuswana sudah kembali mulus dan hitam.

Tak hanya itu. Pemprov juga menyiapkan videotron yang menghadap Simpang Empat Lembuswana untuk mendukung promosi dan menghidupkan wajah kawasan tersebut.

Potensi Mal Lembuswana sebenarnya masih besar. Lokasinya berada di salah satu kawasan strategis Samarinda dan jumlah pengunjungnya masih cukup tinggi.
Saat akhir pekan, pengunjung disebut bisa mencapai 10 ribu orang. Hari normal sekitar 8 ribu orang. Kendaraan yang masuk area parkir mencapai sekitar 3.000 unit pada hari biasa dan 4.000 unit ketika akhir pekan.
Angka itu menjadi modal bagi Pemprov Kaltim untuk mendorong Lembuswana kembali menjadi pusat belanja dan aktivitas masyarakat.

Rudy ingin pembenahan fasilitas berjalan beriringan dengan pengisian tenant yang lebih lengkap. Sebab, mal yang ramai bukan hanya soal bangunan yang bagus, tetapi juga soal apa yang bisa dicari dan dinikmati pengunjung.

Target akhirnya jelas: Lembuswana kembali jadi kebanggaan Kaltim sekaligus mesin PAD.

“Kepada seluruh masyarakat Kalimantan Timur, mari datang ke Mal Lembuswana. Lihat perubahannya dan belanjanya juga di Mal Lembuswana,” ajak Rudy.

Bukan Cuma Lembuswana

Pembenahan aset Pemprov Kaltim tak berhenti di Lembuswana.
Sebelumnya, Gubernur Rudy juga meninjau Hotel Claro Pandurata di Kompleks Gelora Kadrie Oening. Hotel yang juga berada di bawah pengelolaan PT KTMBS itu didorong tampil lebih menarik, termasuk pembenahan akses menuju kawasan hotel.

Lokasinya punya keuntungan tersendiri. Gelora Kadrie Oening setiap akhir pekan menjadi magnet ribuan warga untuk berolahraga maupun berburu kuliner.
Pemprov ingin potensi keramaian itu ikut mengalir ke hotel.

“Artinya, aset jangan cuma ada. Harus hidup, produktif dan menghasilkan.”

Setelah hotel, Rudy melanjutkan peninjauan ke Stadion Madya Sempaja. Meski belum digunakan untuk ajang nasional maupun internasional, stadion tersebut diminta tetap dirawat dan dimaksimalkan untuk kegiatan olahraga, termasuk pemusatan latihan.

“Walaupun tidak dipakai untuk ajang nasional atau internasional, minimal stadion ini tetap bisa dipakai untuk pemusatan latihan. Jadi harus tetap dirawat dan diperbaiki,” pesan Harum kepada Plt Kepala Dispora Kaltim Rasman Rading.

Tiga aset—Mal Lembuswana, Hotel Claro Pandurata dan Stadion Madya Sempaja—kini berada dalam satu agenda besar: membenahi aset daerah agar tak sekadar menjadi fasilitas milik pemerintah, tetapi juga hidup, ramai, produktif dan memberi pemasukan untuk daerah.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *