Krisis Air Bersih dan Karhutla Mengintai Samarinda, Pemkot Tetapkan Status Siaga
Samarinda, nusaetamnews.com : Musim kemarau panjang yang melanda Kota Samarinda mulai berdampak serius pada ketersediaan air bersih dan kualitas udara. Menyusutnya debit air Sungai Mahakam yang disertai tingginya kadar klorida memicu potensi gangguan distribusi air bersih di sejumlah wilayah, seperti Palaran, Pulau Atas, Bukuan, hingga Bantuas. Menanggapi situasi yang kian mengkhawatirkan ini, Pemerintah Kota Samarinda telah merespons cepat dengan menetapkan status darurat kekeringan selama 14 hari.
Wali Kota Samarinda Andi Harun menegaskan bahwa operasional fasilitas intake air bersih sangat bergantung pada kualitas air sungai. Batas aman kadar klorida ditetapkan tidak boleh melebihi 250 ppm demi menjaga standar kesehatan masyarakat. Jika ambang batas tersebut terlampaui, pemrosesan air terpaksa dihentikan sementara. Karena kondisi pasang surut sungai masih sangat fluktuatif, warga diimbau untuk tidak panik, namun tetap berhemat dan bijak dalam mengonsumsi air bersih.
Di saat yang sama, Samarinda kini menaikkan tingkat kerawanan dari fase normal menuju kondisi siaga. Selain ancaman krisis air, risiko kebakaran hutan dan lahan (karhutla) turut melonjak drastis. Karena sebagian besar pemicu kebakaran disinyalir berasal dari tindakan kelalaian atau kesengajaan manusia, warga diminta aktif melakukan patroli pengawasan secara mandiri di lingkungan masing-masing. Optimalisasi jaringan CCTV lewat program Pro Bebaya juga dimaksimalkan untuk memantau dan mendeteksi potensi pembakaran lahan secara dini.
Dampak kemarau ini ternyata tak hanya mengancam stok air dan memicu kebakaran, tetapi juga mulai menyerang kesehatan masyarakat. Lonjakan kasus Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) tercatat naik signifikan akibat kualitas udara yang penuh debu. Sebagai langkah antisipasi mandiri, warga disarankan kembali mengenakan masker saat beraktivitas di luar rumah serta menyiapkan penampungan air bersih secara bijak secukupnya. (ant/one)