Subscribe

Ekonomi Samarinda Melejit 8,66 Persen, Tapi Pengangguran Belum Tuntas

3 minutes read

Samarinda, nusaetamnews.com : Ekonomi Kota Samarinda tumbuh 8,66 persen pada 2025, menjadi yang tertinggi di Kalimantan. Kemiskinan juga turun hingga 3,45 persen. Namun, pertumbuhan ekonomi itu belum sepenuhnya berbanding lurus dengan penyerapan tenaga kerja.
Pengangguran masih menjadi pekerjaan rumah Pemerintah Kota (Pemkot) Samarinda.
Wali Kota Samarinda Andi Harun mengatakan tantangan utama saat ini bukan sekadar mendorong pertumbuhan ekonomi, tetapi memastikan masyarakat lokal ikut menikmati pertumbuhan tersebut melalui akses pekerjaan yang sesuai dengan kebutuhan pasar.
Persoalan itu menjadi salah satu materi yang dipaparkan Andi Harun dalam penilaian presentasi kepala daerah untuk Apresiasi Kinerja Pemerintah Daerah pada dimensi penurunan tingkat pengangguran bersama tim penilai Kementerian Dalam Negeri (Kemendagri) dan Tempo.
Menurutnya, struktur ekonomi Samarinda terus berubah. Ketergantungan terhadap sektor pertambangan mulai bergeser ke sektor konstruksi, perdagangan dan jasa.
Perubahan tersebut membuka peluang baru, tetapi sekaligus menuntut tenaga kerja dengan keterampilan yang lebih spesifik.
“Ini menunjukkan arah pembangunan yang kita jalankan sudah berada di jalur yang tepat,” ujar Andi Harun.
Pemkot Samarinda kemudian mengubah pola pelatihan tenaga kerja agar tidak lagi sekadar berorientasi pada jumlah peserta. Pelatihan diarahkan berdasarkan kebutuhan nyata dunia usaha dan industri atau market driven.
Artinya, pemerintah terlebih dahulu memetakan kebutuhan tenaga kerja, kemudian menyiapkan masyarakat dengan keterampilan yang sesuai.
Skema itu salah satunya diterapkan ketika pembangunan Ibu Kota Nusantara (IKN) meningkatkan kebutuhan tenaga kerja di berbagai bidang. Samarinda merespons dengan membuka pelatihan untuk tenaga welder hingga pekerja sektor jasa melalui Balai Latihan Kerja (BLK) dan lembaga profesional.
Hasilnya, tingkat serapan tenaga kerja dari sejumlah program pelatihan tersebut diklaim mencapai lebih dari 90 persen.
“Kalau kebutuhan industri sudah kita ketahui, pelatihan harus diarahkan ke sana. Jangan sampai kita melatih banyak orang, tetapi setelah selesai mereka tidak tahu akan bekerja di mana,” ujarnya.
Sejumlah indikator program ketenagakerjaan Samarinda juga menunjukkan capaian tinggi. Perencanaan tenaga kerja daerah terealisasi 93,13 persen, pelatihan kerja dan produktivitas tenaga kerja mencapai 97,07 persen, sedangkan penempatan tenaga kerja mencapai 95,9 persen.
Program hubungan industrial bahkan mencatat realisasi 98,76 persen.
Di sisi lain, capaian pembangunan manusia juga terus meningkat. Indeks Pembangunan Manusia (IPM) Samarinda naik dari 82,81 pada 2024 menjadi 83,53 pada 2025, sekaligus berada di atas rata-rata Kalimantan Timur.
Namun, Andi Harun menilai capaian tersebut belum menjadi alasan untuk mengendurkan upaya menekan pengangguran.
Menurutnya, persoalan ketenagakerjaan tidak bisa diselesaikan hanya oleh Dinas Tenaga Kerja. Kebutuhan tenaga kerja harus dipertemukan dengan dunia pendidikan, pelaku usaha dan industri, serta perangkat daerah terkait.
“Persoalan pengangguran tidak dapat sepenuhnya dibebankan kepada Dinas Tenaga Kerja. Kolaborasi lintas sektor, mulai dari dunia pendidikan, industri hingga perangkat daerah lainnya, diperlukan agar penciptaan tenaga kerja terampil dapat berjalan sejalan dengan kebutuhan pasar,” pungkasnya. (le)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *