Subscribe

679 Titik Panas Muncul Sehari, Karhutla Kaltim Capai 1.595 Hektare

3 minutes read

SAMARINDA – Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kalimantan Timur belum menunjukkan tanda mereda. Hingga Agustus 2026, luas lahan yang terbakar sudah mencapai 1.595,81 hektare.

Hal yang membuat situasi kian mengkhawatirkan, dalam satu hari pada 26 Agustus 2026 terdeteksi 679 titik panas yang tersebar di hampir seluruh wilayah Kaltim.

Data Pusdalops BPBD Kaltim mencatat, sejak Januari hingga Agustus telah terjadi 547 kejadian kebakaran di 10 kabupaten/kota. Kutai Kartanegara menjadi daerah dengan luasan terbakar terbesar, mencapai 480,38 hektare dari 53 kejadian.

Kutai Barat menyusul dengan 383,67 hektare dari 77 kejadian. Sedangkan Paser mencatat 358,93 hektare dari 151 kejadian.

Di Samarinda, tercatat 91 kejadian dengan luas lahan terdampak 126,26 hektare. Kemudian Berau 102,94 hektare dari 49 kejadian, Kutai Timur 57,75 hektare dari 33 kejadian, dan Penajam Paser Utara 51,54 hektare dari 50 kejadian.

Sementara Balikpapan mencatat 22 kejadian dengan luas 14,74 hektare, Bontang 10 kejadian seluas 13,51 hektare, serta Mahakam Ulu 11 kejadian dengan luas 6,10 hektare.

Sebagian besar kebakaran terjadi di kawasan non-hutan. Namun, sejumlah kejadian juga berdampak pada kawasan hutan dan perkebunan.

Situasi ini terjadi ketika Kaltim memasuki periode kemarau yang diperkirakan meningkatkan kerentanan lahan terhadap kebakaran.

Dari 679 titik panas yang terdeteksi pada 26 Agustus, Paser menjadi wilayah dengan sebaran tertinggi, yakni 284 titik. Kutai Kartanegara berada di posisi berikutnya dengan 110 titik, disusul Berau 109 titik dan Kutai Timur 100 titik.

Titik panas juga muncul di Kutai Barat sebanyak 52 titik, PPU 11 titik, Balikpapan lima titik, Bontang empat titik, Mahakam Ulu tiga titik dan Samarinda satu titik.

Kepala Pelaksana BPBD Kaltim Buyung Dodi Gunawan mengatakan angka tersebut menjadi alarm agar penanganan tidak menunggu api membesar.

“Hotspot kami jadikan indikator awal. Begitu ada indikasi yang mengarah pada kebakaran, harus segera diverifikasi dan ditindaklanjuti di lapangan,” kata Buyung saat memberikan pemaparan di Diskominfo Kaltim, Kamis (27/8/2026).

Menurutnya, pemantauan dilakukan sepanjang waktu dengan melibatkan berbagai pihak, termasuk BMKG dan Kementerian Kehutanan.

BPBD juga menempatkan Tim Reaksi Cepat (TRC) bersama peralatan penanganan karhutla dalam kondisi siaga. Personel dapat digerakkan sewaktu-waktu mengikuti tingkat ancaman dan perkembangan kejadian.

“Prinsipnya jangan sampai api berkembang karena terlambat ditangani. Kesiapan personel dan peralatan harus mengikuti dinamika di lapangan,” ujarnya.

Selain mengandalkan respons saat kebakaran terjadi, BPBD Kaltim memperkuat kesiapsiagaan di daerah yang dinilai rawan. Logistik kebencanaan turut didistribusikan kepada BPBD kabupaten/kota untuk mendukung penanganan di lapangan.
Koordinasi dengan pemerintah daerah, relawan, komunitas serta instansi terkait juga terus diperkuat.

BPBD menyiapkan sejumlah langkah lanjutan, mulai dari penguatan koordinasi antardaerah, penyusunan rencana kontingensi karhutla hingga pelatihan dan simulasi melalui Tabletop Exercise (TTX).

Dengan luasan terbakar yang telah menembus 1.500 hektare dan ratusan titik panas muncul dalam sehari, ancaman karhutla kini bukan lagi sekadar persoalan kebakaran lokal. Kaltim dituntut bergerak lebih cepat sebelum titik panas berubah menjadi kebakaran yang lebih luas.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *