Kaltim Kejar Swasembada Beras, Kutim Bidik 20 Ribu Hektare Sawah
SAMARINDA — Kalimantan Timur tak ingin terus bergantung pada pasokan beras dari luar daerah. Pemerintah Kabupaten Kutai Timur (Kutim) mulai memasang target besar, mencetak hingga 20 ribu hektare sawah baru dalam lima tahun.
Target tersebut mendapat dukungan penuh Gubernur Kaltim Rudy Mas’ud. Menurutnya, penguatan sektor pertanian harus menjadi strategi jangka panjang Kaltim menghadapi ketidakpastian ekonomi dan ketergantungan terhadap sumber daya alam.
Target 20 ribu hektare itu disampaikan Bupati Kutim Ardiansyah Sulaiman saat bertemu Gubernur Rudy Mas’ud di Harum Resort Balikpapan, Senin (24/8/2026).
Saat ditanya mengenai luas lahan sawah yang dikembangkan Kutim, Ardiansyah langsung menyebut angka 20 ribu hektare sebagai sasaran lima tahun ke depan.
Rudy menyambut target tersebut dengan optimistis. Jika Kutim mampu merealisasikannya dan daerah lain melakukan langkah serupa, peluang Kaltim mencapai swasembada beras dinilai semakin terbuka.
Saat ini, kawasan sawah aktif di Kutim baru sekitar 2.600 hektare. Pemerintah daerah pun terus memburu lahan potensial, termasuk lahan tidur yang belum dimanfaatkan secara maksimal.
Kutim setidaknya telah mencetak sekitar 553 hingga 600 hektare sawah baru melalui program cetak sawah rakyat di Kecamatan Long Mesangat dan Bengalon.
Sejumlah kawasan yang selama ini menjadi sentra produksi padi antara lain Kaliorang, Bengalon, Kaubun dan Long Mesangat.
Ardiansyah mengatakan, perluasan sawah bukan sekadar mengejar angka luasan.
Program tersebut diarahkan untuk memperkuat produktivitas petani sekaligus membangun basis pangan daerah.
Rudy meminta target besar itu dikerjakan secara kolaboratif. Pemerintah daerah, kelompok tani, TNI-Polri hingga sektor swasta harus bergerak bersama agar pembukaan lahan baru tidak berhenti pada pencetakan sawah, tetapi berlanjut hingga menjadi kawasan pertanian produktif.
Sektor pertanian harus mulai ditempatkan sebagai investasi masa depan Kaltim.
“Pertanian ini masa depan kita. Saya tidak terlalu yakin dengan sumber daya alam seperti batubara dan migas yang dikelola selama ini. Dampaknya juga tidak signifikan bagi masyarakat,” tegas Rudy.
Ia bahkan melihat sawah memiliki nilai ekonomi lain di luar produksi pangan. Hamparan persawahan dapat dikembangkan menjadi destinasi wisata yang memberi manfaat tambahan bagi masyarakat.
Jika target 20 ribu hektare benar-benar terealisasi, Kutim bukan hanya memperluas areal pertanian. Kabupaten itu berpeluang menjadi salah satu mesin utama Kaltim untuk mengurangi ketergantungan beras dari luar daerah sekaligus memperkuat ketahanan pangan Benua Etam.