Subscribe

2.211 Orang dengan HIV di Samarinda Masih Jalani Pengobatan, 184 Kasus Baru

2 minutes read

Samarinda – Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Samarinda mencatat sebanyak 2.211 orang dengan HIV masih aktif menjalani terapi antiretroviral (ARV) hingga Mei 2026. Di saat yang sama, pemerintah terus memperluas skrining sebagai langkah menemukan kasus lebih dini agar pengobatan dapat segera diberikan.

Hingga Mei 2026, sebanyak 19.577 orang telah mengikuti pemeriksaan HIV atau sekitar 45 persen dari target skrining tahun ini yang ditetapkan sebanyak 43.189 orang.

Kepala Dinkes Samarinda Ismed Kusasih menjelaskan peningkatan jumlah kasus yang ditemukan tidak serta-merta menunjukkan penyebaran HIV semakin luas. Menurutnya, hal itu justru menjadi indikator bahwa akses dan cakupan pemeriksaan semakin baik sehingga lebih banyak kasus dapat terdeteksi lebih awal.

Dari hasil skrining Januari hingga Mei 2026, Dinkes menemukan 184 kasus baru HIV. Sebanyak 145 orang di antaranya telah memulai terapi ARV. Sementara itu, sekitar 30 persen dari kasus baru berasal dari kelompok laki-laki yang berhubungan seksual dengan laki-laki (LSL).

Pada periode yang sama, tercatat pula 51 kasus AIDS. Secara kumulatif, jumlah kasus HIV yang pernah ditemukan di Samarinda hingga Mei 2026 mencapai 4.385 kasus.
Data Dinkes juga menunjukkan kelompok LSL masih menjadi kelompok terbanyak yang menjalani pengobatan aktif dengan proporsi 41 persen. Sisanya berasal dari populasi umum 16 persen, pasangan berisiko tinggi atau pasangan orang dengan HIV 15 persen, pelanggan pekerja seksual 12 persen, serta pasien tuberkulosis (TB) 9 persen.

Di sisi lain, angka kematian pada orang dengan HIV menunjukkan tren menurun. Setelah tercatat 102 kematian pada 2024 dan 103 kematian pada 2025, hingga Mei 2026 jumlahnya sebanyak 29 kasus.

Ismed menjelaskan, sebagian besar kematian tersebut bukan disebabkan langsung oleh virus HIV, melainkan akibat infeksi oportunistik atau penyakit penyerta yang menyerang ketika daya tahan tubuh telah menurun.

Karena itu, Dinkes terus mendorong kolaborasi berbagai pihak untuk memperluas edukasi, meningkatkan cakupan skrining, serta mengurangi stigma terhadap orang dengan HIV. Langkah tersebut dinilai penting agar semakin banyak pasien menjalani pengobatan secara rutin, sehingga kualitas hidup tetap terjaga dan risiko penularan dapat ditekan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *