Subscribe

Protes Angkutan Sawit, Warga Tuana Tuha Hadang Mobil Gubernur

2 minutes read

KUTAI KARTANEGARA – Perjalanan Gubernur Kalimantan Timur Dr H Rudy Mas’ud (Harum) menuju Kabupaten Kutai Barat melalui jalur Kota Bangun–Tabang, Jumat (3/7/2026), mendadak terhenti saat memasuki Desa Tuana Tuha, Kecamatan Kenohan.
Puluhan warga berdiri di badan jalan menghentikan iring-iringan kendaraan gubernur. Bukan untuk berunjuk rasa, melainkan memanfaatkan kesempatan langka menyampaikan langsung persoalan yang selama ini mereka rasakan.
Rudy Mas’ud memilih turun dari kendaraan dan berjalan menemui warga. Suasana yang semula dipenuhi kegelisahan berubah menjadi dialog terbuka di pinggir jalan.
“Selama ini kami tidak punya wadah mengadu. Alhamdulillah Bapak melintas dan mau turun menemui kami,” ujar seorang warga.

Warga lainnya menyebut pertemuan itu sebagai berkah di hari Jumat. Mereka mengaku baru kali ini bisa menyampaikan aspirasi secara langsung kepada gubernur.
Keluhan utama yang disampaikan berkaitan dengan dihentikannya kerja sama angkutan tandan buah segar (TBS) sawit milik 15 Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) di dua kecamatan oleh PT REA Kaltim sejak 1 Juli 2026. Menurut warga, perusahaan kini lebih memilih menggunakan jasa angkutan pihak ketiga.
Kebijakan tersebut dinilai mengancam mata pencaharian masyarakat yang selama ini menggantungkan penghasilan dari aktivitas angkutan sawit.
Menanggapi aspirasi itu, Rudy Mas’ud menegaskan keberpihakannya kepada masyarakat lokal.
“Saya setuju masyarakat lokal yang harus diutamakan. Bukan malah dikurangi, apalagi diputus. Minimal tetap, kalau perlu justru ditambah,” tegasnya yang langsung disambut tepuk tangan dan sorak gembira warga.
Tak berhenti pada pernyataan sikap, gubernur memastikan persoalan itu akan segera ditindaklanjuti. Ia menjadwalkan pertemuan dengan pimpinan PT REA Kaltim di Kantor Gubernur Kalimantan Timur pada Senin pekan depan untuk mencari solusi yang berpihak kepada masyarakat.
Respons cepat tersebut membuat warga merasa didengar.
“Biasanya kami hanya melihat Pak Gubernur di media sosial. Alhamdulillah sekarang bisa bertemu langsung. Ternyata beliau mau mendengar dan orangnya baik sekali,” ungkap seorang warga.
Perjalanan yang semula hanya menjadi lintasan menuju Kutai Barat pun berubah menjadi ruang dialog. Di tengah jalan yang menghubungkan Kota Bangun dan Tabang, aspirasi masyarakat akhirnya menemukan telinga yang bersedia mendengar dan menjanjikan tindak lanjut.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *