Subscribe

Jaga Hutan Bawa Cuan! Petani Hutan di Kaltim Kantongi Rp8,1 Miliar dalam 5 Bulan

3 minutes read

Samarinda, nusaetamnews.com :  Siapa bilang menjaga kelestarian alam bikin kantong kering? Masyarakat di sekitar kawasan hutan Provinsi Kalimantan Timur justru membuktikan sebaliknya. Selama periode Januari hingga Mei 2026, mereka sukses meraup nilai transaksi ekonomi hingga Rp8,1 miliar dari berbagai usaha ramah lingkungan!

Kepala Balai Penyuluhan dan Pengembangan SDM (P2SDM) Wilayah V, Elpa Rifadi, menyebutkan kalau pencapaian ini menjadi bukti nyata bahwa perhutanan sosial bisa menyokong ekonomi kerakyatan secara mandiri.

“Capaian ini menunjukkan bahwa kegiatan usaha kehutanan berbasis masyarakat telah memberikan kontribusi ekonomi yang nyata bagi anggota kelompok sekaligus mendukung pembangunan ekonomi wilayah sekitar kawasan hutan,” ujar Elpa pada Senin (29/06/2026).

Kabupaten Berau Jadi “Sultan” Penyumbang Terbesar

Uang miliaran tersebut berhasil dikumpulkan oleh Kelompok Tani Hutan (KTH) yang tersebar di lima wilayah, yaitu Kabupaten Berau, Kutai Kartanegara, Kutai Timur, Kutai Barat, dan Kota Balikpapan.

Nah, kalau bicara soal siapa penyumbang omset terbesar, juaranya jatuh kepada Kabupaten Berau. Wilayah ini sukses membukukan perputaran ekonomi yang luar biasa, yaitu lebih dari Rp7,87 miliar!

Usut punya usut, rahasia sukses Berau ada pada kelihaian mereka mengelola hasil hutan bukan kayu (HHBK). Salah satunya lewat KTH Sei Baruk Lestari yang berhasil memproduksi komoditas gubal gaharu yang punya akses pasar luas dan bernilai jual tinggi di pasaran.

Ramai-Ramai Berinovasi: Dari Madu Kelulut Sampai Wisata Alam

Gak cuma mengandalkan getah atau kulit kayu mentah, warga sekitar rimba di Kaltim sekarang sudah makin kreatif dan melek inovasi. Demi menciptakan nilai tambah, mereka mulai membuka berbagai lini bisnis baru, seperti:

  • Budidaya madu kelulut.
  • Sistem pertanian agroforestri kopi (menanam kopi di sela-sela pohon hutan).
  • Pengembangan produk olahan biomassa.

Bahkan, buat kelompok tani hutan yang berada di area dekat perkotaan, mereka berhasil mengubah paradigma dengan menyulap kawasan konservasi menjadi destinasi jasa wisata alam. Bisnis ekowisata ini terbukti sangat menguntungkan dan sukses mengisi kas kelompok secara rutin.

Peran Kunci Penyuluh dan Strategi Biar Gak Ketergantungan

Tentu saja, keberhasilan para petani hutan ini gak lepas dari peran aktif para tenaga penyuluh di lapangan. Merekalah yang telaten mendampingi petani, mulai dari menata sistem administrasi yang rapi sampai membuka akses ke jejaring pemasaran yang lebih luas.

Meski sekarang lagi di atas angin, Elpa Rifadi mengingatkan para petani untuk tidak cepat berpuas diri dan tetap waspada terhadap dinamika pasar.

Ke depan, pihak P2SDM bakal terus mendorong strategi diversifikasi usaha (keanekaragaman bisnis). Langkah antisipasi ini penting agar masyarakat pedalaman tidak mengalami ketergantungan fatal pada satu jenis komoditas unggulan saja. Jadi, kalau harga satu komoditas sedang turun, mereka masih punya back-up dari lini bisnis lainnya. (ant/one)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *