Subscribe

Cuan Hijau! Udang Windu Kaltim Tembus Ekspor Rp173,3 Miliar Lewat Trik Budidaya Mangrove

3 minutes read

SAMARINDA – Gak cuma terkenal dengan batu bara dan migas, Kalimantan Timur diam-diam punya “bintang utama” baru yang sukses merajai pasar internasional. Udang windu asal Benua Etam tercatat berhasil mencetak nilai ekspor fantastis mencapai Rp173,3 miliar dengan volume 769,9 ton hanya dalam periode Januari hingga Mei 2026.

Angka gokil ini menempatkan udang windu sebagai penguasa sektor perikanan Kaltim dengan menyumbang lebih dari separuh total nilai ekspor perikanan provinsi. Produk premium ini rutin terbang untuk memenuhi meja makan di 4 negara pasar utama: Jepang, Amerika Serikat, China, dan Malaysia.

Direct Flight Balikpapan-China Bikin Mutu Tetap Segar

Kepala Bidang Perikanan Budidaya dan Penguatan Daya Saing DKP Kaltim, Irma Listiawati, mengungkapkan rahasia di balik tingginya minat pasar global adalah tekstur daging yang padat, rasa manis alami, serta jaminan higienitas.

Demi menjaga kualitas tetap fresh sampai tangan konsumen, pemda membuka jalur distribusi super cepat (direct flight) menggunakan maskapai kargo Rimbun dari Balikpapan langsung menuju Wenzhou, China, dua kali seminggu.

Selain udang windu, ada 4 komoditas laut Kaltim lain yang ikut shining di pasar global sepanjang lima bulan pertama 2026:

  • Udang Pink: 239,2 ton (Rp31,6 miliar)
  • Ikan Kerapu Segar: 89,3 ton (Rp7,4 miliar)
  • Ikan Bawal Putih Segar: 59,7 ton (Rp6,7 miliar)
  • Udang Putih: 27,7 ton (Rp4,7 miliar)

Kutai Kartanegara Jadi Raja Tambak, PPU Tumbuh Pesat

Hingga pertengahan Juni 2026, total akumulasi ekspor udang windu Kaltim telah menyentuh angka 830 ton (rata-rata 125–150 ton per bulan). Pasokan masif ini disokong penuh oleh empat kabupaten pesisir:

Peta Produksi Udang Windu Kaltim (Januari – Juni 2026):

Kabupaten Sentra Produksi / Bulan Total Akumulasi Juni ’26
Kutai Kartanegara 45 – 55 Ton 290
Berau 28 – 35 Ton 190
Penajam Paser Utara (PPU) 18 – 24 Ton 125
Kutai Timur 8 – 12 Ton 60 Ton

Note: Kota Balikpapan berperan krusial sebagai hub penyortiran dan pengolahan di kawasan Kariangau sebelum udang diekspor via udara.

Terapkan Sistem SECURE: Cuma Pakai 20% Lahan, Hasil Justru Naik 15%

Alasan utama udang windu Kaltim lolos sensor pasar internasional yang super ketat adalah adopsi sistem budidaya ramah lingkungan bernama Shrimp Carbon Aquaculture (Secure). Konsep hasil kolaborasi Dinas Perikanan Berau dan Yayasan Konservasi Alam Nusantara (YKAN) ini tergolong revolusioner.

Alih-alih membabat hutan untuk perluasan tambak, petambak justru cuma memakai 20% lahan untuk budidaya, sementara 80% sisanya wajib dijaga sebagai hutan mangrove. Petambak juga memakai pupuk organik buatan sendiri dari Mikroorganisme Lokal (MOL). “Dulu mikirnya kalau mau hasil banyak, tambak harus dibuka seluas mungkin. Ternyata dengan menyisakan tempat untuk bakau, air jadi lebih bersih, udang tumbuh sehat, dan penyakit jarang muncul,” aku Abdul Rahman, petambak asal Pegat Batumbuk, Berau.

Buktinya nyata, dengan sistem eco-friendly ini, hasil panen udang Abdul Rahman justru melonjak 15%, ditambah bonus panen sampingan seperti kepiting bakau dan ikan bandeng yang hidup alami di ekosistem mangrove yang terjaga. Kaltim sukses membuktikan kalau urusan ekonomi dan kelestarian alam bisa jalan beriringan dan menghasilkan cuan melimpah! (ant/one)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *