Menagih Fungsi Nyata di Musim Reses Dewan
MUSIM reses telah tiba. Bagi para anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD)—baik di tingkat kabupaten, kota, maupun provinsi—ini adalah momentum konstitusional untuk meninggalkan sejenak kursi empuk ruang sidang dan kembali ke tengah-tengah konstituen. Secara regulasi, reses bukanlah masa libur. Ia adalah instrumen penting demokrasi yang mempertemukan suara dari bawah dengan kebijakan di tingkat atas.
Namun, di mata publik, musim reses sering kali masih dipandang dengan skeptisisme yang akut. Mengapa demikian?
Sebab, tidak jarang agenda turun ke daerah pemilihan (dapil) ini terjebak dalam formalitas seremonial. Pertemuan yang didanai oleh uang rakyat ini kerap hanya menjadi ajang bagi-bagi sembako, foto bersama, atau sekadar menampung daftar keinginan warga yang berujung tumpukan proposal tanpa realisasi. Lebih buruk lagi jika reses hanya dimanfaatkan sebagai panggung kampanye terselubung demi investasi politik pemilu berikutnya.
Kita harus mengingatkan kembali khittah dari masa reses itu sendiri. Anggota dewan turun ke lapangan bukan sebagai “sinterklas” yang membawa bantuan instan, melainkan sebagai penyambung lidah rakyat. Tugas mereka adalah menyerap aspirasi, memetakan persoalan makro di daerah—mulai dari infrastruktur yang rusak, karut-marut PPDB di tingkat provinsi, hingga masalah pupuk subsidi di tingkat kabupaten—lalu merumuskannya menjadi pokok-pokok pikiran (pokir) DPRD.
Aspirasi yang diserap selama reses harus memiliki daya tawar yang kuat saat dewan duduk bersama eksekutif (pemerintah daerah) dalam penyusunan APBD. Tanpa pengawalan yang gigih, reses hanya akan menjadi ritual buang-buang anggaran belanja daerah yang sia-sia.
Oleh karena itu, redaksi mendorong dua hal penting:
- Bagi Anggota Dewan: Jadikan reses kali ini sebagai pembuktian integritas. Dengarkan kritik yang pahit sekalipun, bukan hanya pujian dari tim sukses. Bekerjalah dengan transparan dan laporkan hasil reses tersebut kepada publik sebagai bentuk akuntabilitas.
- Bagi Masyarakat: Jangan menjadi konstituen yang pasif. Manfaatkan kehadiran wakil Anda untuk menagih janji politik, menyampaikan persoalan nyata di lingkungan sekitar, dan menguji sejauh mana pemahaman mereka terhadap masalah daerah.
Reses adalah jembatan kepercayaan antara rakyat dan wakilnya. Jika jembatan ini hanya dilewati sebagai formalitas, maka jangan salahkan jika publik akan semakin apatis terhadap lembaga legislatif. Mari kita kawal bersama musim reses ini, agar setiap rupiah anggaran yang keluar benar-benar berdampak pada kesejahteraan masyarakat di kabupaten, kota, maupun provinsi kita. (setia wirawan)