Pertanian, Maritim dan Ekonomi Kreatif Sumber Pertumbuhan Adaptif dan Bernilai Tambah Tinggi
Ambon – Di tengah tekanan ekonomi global dan mulai melambatnya sejumlah sektor unggulan daerah, pemerintah provinsi di Indonesia dituntut mencari sumber pertumbuhan baru yang lebih berkelanjutan. Salah satu yang kini didorong adalah penguatan ekonomi kreatif atau orange economy yang dipadukan dengan sektor pertanian dan maritim.
Pesan itu mengemuka dalam Focus Group Discussion (FGD) Asosiasi Pemerintah Provinsi Seluruh Indonesia (APPSI) 2026 di Ambon, Maluku, Rabu (3/6/2026), yang dibuka langsung Ketua Umum APPSI sekaligus Gubernur Kalimantan Timur Rudy Mas’ud.
Di hadapan perwakilan pemerintah provinsi dari seluruh Indonesia, Rudy mengingatkan bahwa daerah tidak bisa terus bergantung pada kekuatan sumber daya alam semata. Fluktuasi ekonomi global, perubahan pasar, hingga tantangan investasi menuntut daerah memiliki sumber pertumbuhan yang lebih adaptif dan bernilai tambah tinggi.
“Ekonomi oranye menjadi salah satu jawaban untuk menghadapi tantangan tersebut. Daerah harus berani melahirkan terobosan dan gagasan baru agar pertumbuhan ekonomi tidak hanya bergantung pada sektor konvensional,” ujarnya.
FGD APPSI kali ini mengangkat tema penguatan ekosistem orange economy melalui integrasi sektor pertanian, maritim, dan ekonomi kreatif. Tema tersebut dinilai relevan dengan kondisi banyak daerah yang memiliki sumber daya melimpah, tetapi belum sepenuhnya mampu mengubahnya menjadi produk kreatif bernilai ekonomi tinggi.
Meski ekonomi nasional pada triwulan pertama 2026 tumbuh 5,61 persen, APPSI menilai masih terdapat pekerjaan besar untuk memastikan pertumbuhan tersebut dirasakan secara merata hingga ke daerah.
Karena itu, forum gubernur se-Indonesia tersebut tidak hanya membahas peluang ekonomi kreatif, tetapi juga merumuskan berbagai rekomendasi kebijakan yang akan disampaikan kepada pemerintah pusat.
Rudy menegaskan, daerah membutuhkan ruang yang lebih besar untuk mengoptimalkan potensi masing-masing, terutama dalam mengembangkan industri kreatif berbasis kekuatan lokal.
“Pertanian, maritim, dan ekonomi kreatif harus menjadi satu ekosistem yang saling menguatkan. Tujuannya bukan sekadar meningkatkan angka pertumbuhan, tetapi menciptakan kesejahteraan yang nyata bagi masyarakat daerah,” tegasnya.
FGD APPSI juga menjadi ruang konsolidasi aspirasi pemerintah provinsi yang selama ini menghadapi beragam persoalan pembangunan, mulai dari penguatan pendapatan daerah hingga peningkatan daya saing ekonomi lokal.
Sementara itu, Gubernur Maluku Hendrik Lewerissa menyambut pelaksanaan forum tersebut sebagai momentum memperkuat kolaborasi antardaerah dalam menghadapi tantangan ekonomi yang semakin kompleks.
APPSI berharap lahir rekomendasi konkret yang tidak berhenti sebagai dokumen rapat, melainkan menjadi pijakan kebijakan nasional untuk memperkuat ekonomi daerah sebagai fondasi pertumbuhan Indonesia di masa depan.