Jaga Eksistensi di Era Digital, Taman Budaya Kaltim Latih Pelajar Samarinda Jadi Jagoan Pantun!
Samarinda, nusaetamnews.com : Unit Pelaksana Teknis Daerah (UPTD) Taman Budaya Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi Kalimantan Timur (Kaltim) punya cara keren buat menjaga kelestarian budaya lokal. Melalui Pelatihan Sastra Tahun 2026, mereka mengajak para pelajar di Samarinda untuk kembali jatuh cinta dan mendalami sastra daerah, khususnya seni berpantun.
“Sastra bukan sekadar rangkaian kata, melainkan ruang berpikir, ruang rasa, dan ruang peradaban yang harus terus dikembangkan, terutama di era digital saat ini,” ungkap Kepala UPTD Taman Budaya Kaltim, Erna Rawaty Sinaga, di Samarinda, Senin.
Agenda edukatif yang digeber selama tiga hari (hingga 20 Mei 2026) ini diikuti oleh 60 peserta dari 10 SMA dan SMK hits di Kota Samarinda. Biar penyerapan materinya makin maksimal, tiap sekolah mengirimkan tim kecil yang terdiri dari satu guru pendamping dan lima siswa pilihan.
Gali Potensi Tradisi Lisan Bumi Etam
Erna mengingatkan bahwa tanah Kalimantan Timur sebenarnya menyimpan harta karun berupa kekayaan tradisi lisan dan cerita rakyat yang sangat melimpah. Sayang banget kalau potensi ini dilewatkan begitu saja tanpa digubah menjadi karya tulis bernilai seni tinggi.
Lewat coaching clinic yang komprehensif ini, Pemprov Kaltim optimis bisa melahirkan generasi baru penulis muda dan content creator literasi yang cakap mengangkat identitas budaya lokal ke panggung yang lebih luas.
Bagi Erna, karya sastra punya peran strategis yang multi-fungsi:
- Media pembelajaran yang efektif dan gak ngebosenin.
- Sarana refleksi sosial atas realitas masyarakat.
- Instrumen penting untuk membangun karakter luhur generasi muda bangsa.
Jadi Hub Kreativitas Anak Muda Kaltim
Agenda pembinaan sastra ini sekaligus mempertegas posisi Taman Budaya Kaltim sebagai pusat kreativitas dan ruang belajar (creative hub) yang representatif bagi para penggiat literasi budaya di Benua Etam.
Ke depan, Taman Budaya Kaltim berkomitmen untuk terus mengoptimalkan perannya agar anak muda gak asing dengan budayanya sendiri. Nggak cuma fokus di bidang sastra dan seni bertutur, wadah ini juga bakal terus menggenjot pelestarian tarian adat, alat musik tradisional, hingga legenda-legenda khas lokal agar tetap eksis melintasi zaman. (ant/one)