Subscribe

AS Perketat Jeratan Sanksi Rusia-Iran, Jalur Energi Global di Ambang Krisis

2 minutes read

Washington, nusaetamnews.com : Pemerintah Amerika Serikat (AS) kian agresif memburu celah baru untuk mempersempit ruang gerak ekonomi Rusia dan Iran. Asisten Menteri Keuangan AS untuk Pendanaan Terorisme, Jonathan Burke, menegaskan bahwa Washington sedang meramu strategi sanksi yang lebih tajam bagi kedua negara tersebut.

“Kami terus mengidentifikasi cara-cara baru untuk menerapkan sanksi terhadap Rusia dan Iran,” tegas Burke dalam sidang dengar pendapat di DPR AS, Rabu (22/4).

Burke membantah anggapan bahwa pengecualian sanksi minyak selama ini memberikan “napas” bagi ekonomi kedua negara. Menurutnya, kebijakan tersebut didesain sedemikian rupa sehingga sulit bagi Moskow maupun Teheran untuk meraup keuntungan nyata.

Polemik Dana Miliran Dolar

Langkah Departemen Keuangan AS ini sempat diwarnai isu panas terkait potensi pendapatan Iran sebesar 14 miliar dolar AS akibat kelonggaran transaksi minyak. Namun, kabar yang sempat diembuskan media tersebut langsung ditepis oleh Menteri Keuangan AS, Scott Bessent.

Bessent melabeli angka fantastis tersebut sebagai sebuah “mitos”. Meski begitu, AS tetap mengambil langkah tegas dengan mengakhiri pengecualian sanksi minyak Iran pada 14 April lalu, disusul pengaturan ketat terhadap pengapalan minyak Rusia hingga pertengahan Mei mendatang.

Eskalasi Militer & Ancaman Jalur Pasokan Energi

Ketegangan sanksi ini berjalan beriringan dengan situasi keamanan yang kian membara di Timur Tengah. Pasca serangan bersama AS-Israel ke sejumlah titik di Iran pada akhir Februari yang memicu korban sipil, Teheran melancarkan serangan balasan ke fasilitas militer AS dan wilayah Israel.

Dampak Ngeri Konflik bagi Pasar Global:

  • Lumpuhnya Selat Hormuz: Arus lalu lintas di jalur paling strategis di dunia ini hampir terhenti total.
  • Krisis Energi: Terhambatnya pengiriman gas alam cair (LNG) dan minyak mentah dari Teluk Persia.
  • Lonjakan Harga: Harga bahan bakar global dilaporkan meroket akibat ketidakpastian distribusi di jalur utama tersebut.

Situasi di tahun 2026 ini menempatkan ekonomi global dalam posisi sulit. Di satu sisi, Washington terus menggunakan instrumen keuangan sebagai senjata politik, sementara di sisi lain, stabilitas pasokan energi dunia kini berada di ujung tanduk akibat eskalasi militer yang tak kunjung reda. (ant/one)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *