Musim Kemarau Mundur, BPBD Kaltim Minta Warga Siaga Mulai Mei
Samarinda, Nusaetamnews.com – Pergeseran musim mulai terasa di Kalimantan Timur. Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kaltim mengimbau masyarakat meningkatkan kewaspadaan menyusul kemungkinan mundurnya jadwal musim kemarau tahun ini.
Berdasarkan rilis terbaru dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), musim hujan diperkirakan masih berlangsung hingga akhir April dan berlanjut ke Mei. Kondisi ini berbeda dari prediksi sebelumnya yang menyebut April sebagai awal kemarau.
Kepala BPBD Kaltim Buyung Budi Purnomo mengatakan pergeseran ini menjadi sinyal penting bagi masyarakat dan sektor strategis untuk menyesuaikan perencanaan.
“Yang kita perkirakan April sudah masuk kemarau, ternyata bergeser hingga Mei. Ini perlu diantisipasi bersama,” ujarnya, Senin (20/4/2026).
Meski mengalami pergeseran, BPBD memperkirakan puncak musim kemarau tetap terjadi pada Juli hingga Agustus. Pada periode tersebut, potensi cuaca ekstrem akan meningkat, terutama terkait kekeringan dan dampak turunannya.
“Mulai terasa di Mei, meningkat di Juni, dan puncaknya Juli sampai Agustus,” jelasnya.
Salah satu dampak yang perlu diwaspadai adalah menurunnya cadangan air. Kondisi ini berpotensi memengaruhi kebutuhan harian masyarakat, sekaligus sektor pertanian dan perkebunan.
Buyung menyarankan adanya penyesuaian pola tanam, termasuk kemungkinan percepatan masa tanam guna menghindari risiko kekeringan saat puncak kemarau.
Selain itu, aspek logistik juga menjadi perhatian. Distribusi kebutuhan pokok diharapkan tetap terjaga meski berpotensi terganggu oleh perubahan cuaca.
BPBD juga mengingatkan potensi kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang biasanya meningkat saat musim kemarau. Namun, pihaknya berharap kondisi tahun ini tidak seburuk fenomena El Nino ekstrem seperti yang terjadi pada 2015.
“Harapannya hujan masih cukup sehingga titik api bisa ditekan,” katanya.
Dengan kondisi cuaca yang kian tidak menentu, BPBD Kaltim menekankan pentingnya kesiapsiagaan sejak dini. Mulai dari pengelolaan air, penyesuaian aktivitas pertanian, hingga peningkatan kewaspadaan terhadap potensi bencana.
Koordinasi lintas sektor pun dinilai krusial untuk meminimalkan dampak, terutama menjelang puncak musim kemarau dalam beberapa bulan ke depan. (ray)