Akses Medis Tanpa Batas: Dinkes Kaltim Genjot Pustu dan Ambulans Terapung di Wilayah 3T
Samarinda, nusaetamnews.com : Dinas Kesehatan (Dinkes) Provinsi Kalimantan Timur (Kaltim) tancap gas memperluas jangkauan layanan medis. Fokus utamanya jelas: memastikan warga di wilayah Tertinggal, Terdepan, dan Terluar (3T) tidak lagi kesulitan mendapat pertolongan medis hanya karena kendala geografis.
Pustu Jadi Solusi Satset
Kepala Dinkes Kaltim, Jaya Mualimin, mengungkapkan bahwa pembangunan Puskesmas Pembantu (Pustu) menjadi strategi paling rasional saat ini. Selain konstruksinya yang tidak rumit, Pustu dinilai lebih efektif menjangkau titik-titik terpencil.
“Fokus kami perluasan Pustu karena lebih mudah dibangun dan cukup ditangani oleh tenaga bidan. Ini solusi cepat untuk daerah pedalaman,” ujar Jaya di Samarinda, Jumat.
Saat ini, Kaltim tercatat memiliki 188 Puskesmas induk. Namun, tantangan besar ada di wilayah seperti Kabupaten Mahakam Ulu, di mana akses menuju Puskesmas seringkali memakan waktu lama. Lokasi seperti pemukiman terapung Malahing dan Pulau Miang kini menjadi prioritas sasaran pembentukan Pustu baru.
Ambulans Air: ‘Life Saver’ di Jalur Sungai
Selain bangunan fisik, Dinkes Kaltim juga mengandalkan Ambulans Terapung. Armada ini jadi kunci evakuasi medis di wilayah pesisir dan bantaran sungai yang tidak terjangkau jalur darat.
Poin penting armada medis air ini:
- Akses Cepat: Menjadi opsi evakuasi tercepat dan teraman, terutama di wilayah perbatasan.
- Hibah Pemprov: Mahakam Ulu baru saja menerima bantuan satu unit ambulans air senilai Rp1,7 miliar dari Gubernur Kaltim.
- Gratis via BPJS: Masyarakat tidak perlu pusing soal biaya, karena layanan transportasi medis ini sepenuhnya di-<i>cover</i> oleh BPJS Kesehatan.
Mandiri Secara Operasional
Jaya menegaskan bahwa meskipun unit disediakan oleh Pemprov, biaya operasional ke depan akan ditanggung secara mandiri oleh pemerintah daerah masing-masing. Ia pun mendorong daerah lain yang memiliki keterbatasan akses darat untuk segera mengajukan usulan pengadaan armada serupa.
Meski jalur darat Tering menuju Ujuh Bilang sudah diresmikan, keberadaan ambulans air tetap dinilai vital. “Ini soal pilihan evakuasi. Di Mahulu, jalur air seringkali tetap menjadi yang paling efisien dalam kondisi darurat,” pungkasnya. (ant/one)