Dirut Bankaltimtara Kabarnya Segera Diganti, Karang Paci Masih Sepi
Samarinda — Kabar pergantian Direktur Utama (Dirut) Bankaltimtara terus bergulir dan menjadi perhatian publik. Namun di tengah isu yang kian menguat itu, Karang Paci, sebutan lain DPRD Kalimantan Timur (Kaltim), justru belum mendengar kabar pasti.
Ketua DPRD Kaltim Hasanuddin Mas’ud menyebut lembaganya tidak pernah dilibatkan dalam tahapan penentuan pimpinan bank daerah tersebut. Ia menegaskan, posisi DPRD memang bukan sebagai pemegang saham, sehingga tidak memiliki akses dalam forum pengambilan keputusan strategis.
“Memang kita tidak tahu, karena tidak dilibatkan. Kita juga bukan pemilik saham,” ujarnya.
Selama ini, peran DPRD terbatas pada persetujuan penyertaan modal daerah. Adapun urusan penunjukan direksi sepenuhnya berada di tangan pemegang saham melalui mekanisme Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS).
Menurut Hasanuddin, situasi ini menimbulkan ironi. Di satu sisi DPRD menyetujui alokasi anggaran untuk memperkuat permodalan bank, tetapi di sisi lain tidak memiliki ruang untuk ikut memantau arah kebijakan perusahaan.
“Minimal kami bisa diundang, meski hanya memberi masukan, bukan ikut memutuskan,” keluhnya.
Ia juga mengungkapkan, hingga kini DPRD belum pernah menerima undangan resmi untuk menghadiri RUPS Bankaltimtara.
Di luar itu, proses seleksi direksi disebut telah berjalan melalui tim khusus yang melibatkan pemerintah dan Otoritas Jasa Keuangan (OJK). Mekanisme tersebut mencakup uji kelayakan dan kepatutan, termasuk persyaratan sertifikasi manajemen risiko bagi calon direksi.
Sementara itu, keputusan akhir tetap berada di tangan para pemegang saham, yakni pemerintah kabupaten dan kota.
Informasi yang beredar menyebutkan adanya percepatan pergantian Dirut yang saat ini dijabat Muhammad Yamin. Bahkan, dua nama dikabarkan telah melewati tahapan uji di OJK.
Padahal, masa jabatan Yamin masih berlaku hingga 2028 setelah kembali ditetapkan dalam RUPS tahun lalu.
Hasanuddin menilai dinamika ini bukan hal baru. Ia menyebut proses pergantian sebenarnya sudah berlangsung cukup lama, hanya saja baru mencuat ke publik belakangan ini.
“Ini bukan tiba-tiba, prosesnya sudah berjalan, sekarang saja mulai terlihat,” ujarnya.
Di internal Bankaltimtara sendiri, sejumlah posisi strategis masih belum definitif. Beberapa jabatan penting, termasuk direktur kredit, direktur operasional, hingga komisaris, saat ini masih diisi pelaksana tugas.
Kondisi tersebut turut memunculkan spekulasi publik, termasuk kemungkinan kaitannya dengan kasus dugaan kredit fiktif yang sempat mencuat di Kalimantan Utara. Namun Hasanuddin mengaku tidak memiliki informasi rinci terkait hal tersebut.
Ke depan, Hasanuddin berharap adanya keterbukaan yang lebih baik dari manajemen bank, mengingat Bankaltimtara juga mengelola dana publik melalui penyertaan modal daerah.
“Yang penting komunikasi dibuka. Kalau diundang, kami siap hadir, bahkan dengan biaya sendiri,” tutup Hasanuddin.