Kelapa Genjah Jadi Magnet Investasi Baru, Kaltim Bidik Peluang Besar dari IKN
MAKASSAR — Pemerintah Provinsi Kalimantan Timur (Kaltim) mulai serius melirik kelapa genjah sebagai komoditas unggulan baru yang menjanjikan. Di tengah geliat pembangunan Ibu Kota Nusantara (IKN), sektor ini dinilai punya prospek cerah, baik dari sisi produksi maupun pasar.
Gubernur Kaltim Rudy Mas’ud menegaskan bahwa kelapa genjah menawarkan keunggulan utama berupa masa panen yang relatif singkat. Dalam waktu sekitar tiga hingga empat tahun, tanaman ini sudah bisa menghasilkan, sehingga menarik bagi investor yang ingin mendapatkan perputaran modal lebih cepat.
“Ini komoditas yang realistis dan menjanjikan. Tidak perlu menunggu lama untuk panen,” ujarnya saat menghadiri Pertemuan Saudagar Bugis Makassar (PSBM) XXVI di Makassar, Kamis 26 Maret 2026.
Menurutnya, kekuatan utama Kaltim terletak pada ketersediaan lahan yang luas dan masih terbuka untuk dikembangkan. Dengan total wilayah mencapai sekitar 127 ribu kilometer persegi, sebagian besar kawasan masih memiliki ruang untuk ekspansi perkebunan modern.
Ia mencontohkan wilayah seperti Kutai Timur, Berau, dan Mahakam Ulu yang memiliki bentang lahan sangat luas, namun dengan jumlah penduduk yang relatif kecil. Kondisi ini dinilai ideal untuk pengembangan sektor agribisnis skala besar.
“Lahan kita luas, potensinya besar. Tinggal bagaimana dimanfaatkan secara optimal,” katanya.
Tak hanya kelapa genjah, Kaltim juga menyiapkan penguatan komoditas lain seperti kakao. Beberapa daerah bahkan mulai diarahkan menjadi sentra produksi nasional untuk komoditas tersebut dalam beberapa tahun ke depan.
Di sisi lain, kebutuhan pangan di Kaltim yang masih bergantung pada pasokan luar daerah juga membuka peluang investasi baru. Komoditas seperti beras, daging sapi, dan daging ayam masih menjadi pasar yang sangat potensial untuk dikembangkan secara lokal.
Rudy menilai, kehadiran IKN akan menjadi katalis utama yang mempercepat pertumbuhan ekonomi daerah, sekaligus menciptakan permintaan besar terhadap berbagai komoditas pangan dan perkebunan.
“Perpindahan pusat pemerintahan ke IKN akan membawa efek berantai. Ini momentum yang harus ditangkap pelaku usaha,” tegasnya.
Sementara itu, Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman memastikan kondisi pangan nasional tetap terkendali meski dihadapkan pada tantangan global. Ia menyebut stok beras nasional masih dalam kondisi aman.
Dengan kombinasi antara potensi lahan, kebutuhan pasar, dan dorongan pembangunan IKN, Kaltim kini memposisikan diri sebagai salah satu wilayah yang siap menjadi magnet investasi baru di sektor pertanian dan perkebunan.