Subscribe

Kredit Perbankan Kaltim Tembus Rp201 Triliun, Sektor Transportasi dan Gudang Jadi “Primadona”

2 minutes read

Samarinda, nusaetamnews.com : Sektor transportasi dan pergudangan (transgud) tampil sebagai mesin utama penggerak kredit di Kalimantan Timur awal tahun ini. Bank Indonesia (BI) mencatat, total penyaluran kredit perbankan di Bumi Etam per Januari 2026 mencapai angka fantastis, yakni Rp201 triliun.

Meski tumbuh positif sebesar 6,25 persen (year-on-year/yoy), performa kredit Kaltim ini tercatat masih berada di bawah rata-rata pertumbuhan nasional yang menyentuh angka 9,33 persen (yoy).

Sektor Transgud dan Konstruksi “Terbang” Tinggi

Kepala BI Kaltim, Jajang Hermawan, mengungkapkan bahwa hampir seluruh sektor utama di Kaltim menunjukkan tren hijau. Sektor transgud memimpin klasemen dengan lonjakan pertumbuhan mencapai 32,42 persen (yoy), disusul sektor konstruksi yang tumbuh solid di angka 25,38 persen.

“Penyaluran kredit tumbuh positif, didukung oleh stabilitas sistem keuangan yang terjaga. Ini terlihat dari tingkat Non-Performing Loan (NPL) atau kredit macet yang sangat rendah, hanya di level 1,38 persen,” ujar Jajang di Samarinda, Kamis (5/3).

Balikpapan dan Samarinda Masih Dominan

Secara spasial, kue kredit di Kaltim masih terpusat di dua kota utama. Sejak 2018 hingga awal 2026, Balikpapan dan Samarinda menguasai pangsa rata-rata 50 persen dari total kredit provinsi.

Khusus di Januari 2026, Kota Balikpapan mencatatkan pertumbuhan tertinggi dibanding kabupaten/kota lainnya, yakni sebesar 14,47 persen (yoy). Namun, jika bicara soal besaran pangsa sektoral, tambang dan pertanian tetap menjadi “pemain lama” yang mendominasi dengan total andil 36 persen.

Tantangan DPK: Giro dan Deposito “Menciut”

Di balik rapor hijau penyaluran kredit, perbankan Kaltim menghadapi tantangan di sisi penghimpunan Dana Pihak Ketiga (DPK). Tercatat, DPK Kaltim mengalami kontraksi sebesar 7,48 persen (yoy).

Penurunan ini dipicu oleh merosotnya simpanan di sektor:

  • Giro: Turun tajam 18,84 persen (yoy).
  • Deposito: Terkoreksi 9,90 persen (yoy).

Tren ini menunjukkan adanya pergeseran penggunaan dana masyarakat maupun korporasi, yang kemungkinan lebih memilih untuk memutar modal pada kegiatan usaha ketimbang mengendapkannya di bank. (ant/one)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *