Menjemput Cahaya di Pelosok Etam: Ambisi Kukar Tuntaskan Kegelapan lewat “Terang Kampungku”
Tenggarong, nusaetamnews.com : Di balik luasnya hamparan perairan dan rimbunnya hutan Kutai Kartanegara (Kukar), sebuah revolusi sunyi tengah berlangsung. Bukan tentang deru mesin industri, melainkan tentang senyum anak-anak Desa Tani Baru yang kini bisa belajar di bawah terang lampu saat malam hari, tanpa perlu lagi bergantung pada redupnya pelita atau bisingnya mesin genset yang mahal.
Pemerintah Kabupaten Kukar di bawah kepemimpinan Bupati Aulia Rahman Basri, bekerja sama dengan PLN, tengah memacu program “Terang Kampungku”. Misinya ambisius namun konkret: memastikan tidak ada lagi warga di daerah pelosok maupun pesisir yang merasa dianaktirikan dari akses energi.
“Malam Kami Tak Lagi Sunyi”
Bagi warga di pelosok, kehadiran listrik 24 jam bukan sekadar angka statistik elektrifikasi, melainkan perubahan gaya hidup yang fundamental.
“Dulu, kalau jam delapan malam, desa kami sudah seperti kota mati. Anak-anak hanya bisa belajar sebentar pakai pelita. Sekarang, setelah ada PLTS komunal dari program Terang Kampungku, mereka bisa baca buku sampai malam. Kami juga bisa pakai freezer untuk simpan hasil tangkapan ikan tanpa takut busuk,” ujar Haji Maimunah, salah satu tokoh masyarakat di Desa Tani Baru, Kecamatan Anggana.
Hal senada dirasakan di dunia pendidikan. Pak Guru Yusuf, pengajar di pedalaman Desa Liang Buaya, mengaku kini bisa mengenalkan teknologi digital kepada siswanya. “Dulu mau menyalakan laptop saja harus patungan beli bensin genset. Sekarang, akses informasi terbuka lebar. Anak-anak desa tidak lagi merasa tertinggal dari teman-temannya di kota,” ungkapnya haru.
Keadilan Energi sebagai Fondasi Ekonomi
Bagi Bupati Aulia Rahman Basri, listrik merupakan instrumen pemerataan keadilan. Saat ditemui di Tenggarong, Selasa (3/3), ia menegaskan bahwa akses energi 24 jam adalah hak dasar yang akan menjadi pemicu efek domino bagi kesejahteraan warga.
“Tidak boleh ada warga Kukar yang merasa tertinggal dalam akses listrik. Kehadiran listrik yang stabil akan mendorong tumbuhnya usaha mikro, meningkatkan kualitas pendidikan anak-anak, hingga optimalisasi pelayanan kesehatan di daerah terpencil,” tegas Bupati Aulia.
Menembus Batas Geografis dengan Tenaga Surya
Tantangan geografis Kukar yang mencakup perairan dan pedalaman yang sulit dijangkau jaringan kabel konvensional menuntut solusi kreatif. Salah satu jawabannya adalah Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) Komunal.
- Keberhasilan di Pesisir: Pada 2025, Desa Tani Baru telah membuktikan efektivitas PLTS Komunal. Desa pesisir ini kini sepenuhnya beralih ke energi bersih matahari.
- Target Berikutnya: Fokus kini diarahkan ke desa-desa di sekitar Danau Melintang, di mana akses jaringan kabel PLN konvensional sangat menantang untuk ditembus karena kondisi rawa yang luas.
Sinergi Menuju 100% Elektrifikasi di 2026
Manajer PLN Wilayah Tenggarong, Hasmon Karaeng, menyatakan optimisme serupa. Meskipun wilayah geografis Kukar mencapai lebih dari 27.000 $km^2$, koordinasi intensif dengan Pemkab Kukar terus dilakukan.
“Kami menargetkan seluruh desa di Kabupaten Kukar dapat menikmati layanan listrik 24 jam pada tahun 2026. Fokus kami saat ini adalah memperluas jangkauan ke daerah perairan melalui skema intervensi jaringan maupun pembangkit alternatif,” ujar Hasmon.
Hingga akhir 2025, peningkatan akses 24 jam terus digenjot. Bagi wilayah yang secara teknis belum memungkinkan ditarik jaringan kabel, skema PLTS akan menjadi solusi utama guna memastikan kedaulatan energi menyentuh hingga ke setiap pintu rumah tangga di Bumi Etam. (ant/one)