Gak Cuma Jual Ikan Mentah, Kaltim Gaspol Hilirisasi Sektor Perikanan!
Samarinda, nusaetamnews.com : Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) Provinsi Kalimantan Timur resmi “tancap gas” menggarap program hilirisasi. Tujuannya jelas: memastikan hasil laut Bumi Etam nggak cuma dijual mentah, tapi bertransformasi jadi produk bernilai tinggi lewat prinsip sustainable fisheries.
Kepala Bidang Perikanan Budidaya dan Penguatan Daya Saing DKP Kaltim, Irma Listiawati, menyebut hilirisasi ini bersifat integratif. Targetnya bukan cuma ikan hasil tangkapan laut, tapi juga menyasar sektor budidaya yang lagi tren, seperti tambak, kolam, hingga Karamba Jaring Apung (KJA).
“Sektor budidaya terus menunjukkan tren positif setiap tahunnya. Keduanya (tangkapan dan budidaya) adalah pilar utama rantai pasok hilirisasi kita,” ungkap Irma dalam forum di Samarinda, Selasa (24/2).
3 Pilar ‘Garda Terdepan’ Perikanan Kaltim
Untuk menjaga kualitas bahan baku, DKP Kaltim membagi pembinaan ke dalam tiga kelompok strategis:
- Sektor Tangkap: Penguatan nelayan lewat Kelompok Usaha Bersama (KUB).
- Sektor Budidaya: Pendampingan intensif untuk Kelompok Pembudidaya Ikan (Pokdakan).
- Sektor Hilir: Pembinaan Kelompok Pengolah dan Pemasar Hasil Perikanan (Poklahsar).
Dari Ikan Segar Jadi Produk Gourmet
Lewat tangan dingin Poklahsar, komoditas ikan kini nggak lagi membosankan. Ikan segar disulap jadi produk inovatif mulai dari bakso ikan, pempek, bandeng presto, sampai produk kelas gourmet.
Menurut Irma, produk olahan punya vibe bisnis yang lebih menjanjikan karena masa simpan lebih lama dan margin keuntungan yang jauh lebih “gurih” dibanding sekadar jual ikan segar.
Legalitas Jadi “Paspor” ke Pasar Global
Biar bisa nangkring di rak ritel modern atau tembus pasar ekspor, DKP Kaltim mendorong pelaku usaha untuk melek administrasi lewat sistem Online Single Submission (OSS).
Tahapannya jelas:
- Punya NIB (Nomor Induk Berusaha).
- Fasilitasi Sertifikat Kelayakan Pengolahan (SKP).
- Pemenuhan standar SNI.
“Sertifikasi ini bukan sekadar formalitas, tapi ‘paspor’ bagi produk Kaltim untuk bersaing di pasar internasional,” tegas Irma.
Harapannya, sinergi antara teknologi dan regulasi ini bisa bikin ekonomi Kaltim makin strong sekaligus menyejahterakan nelayan lokal tanpa merusak ekosistem perairan. (ant/one)