Subscribe

Tragedi Sepatu Sempit di Samarinda: Mensos Ultimatum Pemda Soal Akurasi Data Kemiskinan

2 minutes read

Jakarta, nusaetamnews.com :  Tragedi kemanusiaan yang menimpa Mandala Rizky Syahputra (16), siswa SMKN 4 Samarinda yang meninggal dunia akibat infeksi luka dari sepatu sekolah yang kekecilan, memicu reaksi keras dari pemerintah pusat. Menteri Sosial Saifullah Yusuf (Gus Ipul) meminta seluruh pemerintah daerah (Pemda) untuk “pasang mata” dan menajamkan akurasi data kemiskinan.

Mandala diketahui terpaksa memakai sepatu ukuran 40 padahal kakinya sudah berukuran 44 karena keterbatasan ekonomi. Luka parah yang muncul saat magang berujung infeksi fatal, sementara keluarganya dilaporkan luput dari daftar penerima bantuan sosial (bansos).

Data Adalah Kunci: No More “Eksklusi”

Gus Ipul menegaskan bahwa Jakarta tidak bisa bekerja sendirian. Kerja sama dengan Pemda adalah harga mati untuk memastikan bantuan sampai ke tangan yang tepat.

“Kata kuncinya adalah data. Tidak mungkin Jakarta bisa menjangkau seluruh daerah tanpa kerja sama itu. Kita harus pastikan anak-anak dari keluarga prasejahtera bisa kita jangkau sebelum terlambat,” ujar Gus Ipul dalam konferensi pers di Jakarta, Selasa (5/5).

Langkah Konkret Kemensos Cegah Tragedi Berulang:

Untuk menutup celah data yang “bolong”, Kemensos kini mengerahkan teknologi dan petugas lapangan:

  • Aplikasi SIK-NG: Memaksimalkan Sistem Informasi Kesejahteraan Sosial Next Generation yang menghubungkan desa hingga pusat secara real-time.
  • Ground Check: Mengerahkan petugas BPS dan pendamping PKH untuk melakukan pengecekan langsung di lapangan guna memverifikasi kondisi warga secara faktual.
  • Puskesos Desa: Memperkuat peran Pusat Kesejahteraan Sosial di tingkat desa sebagai garda terdepan untuk melapor kasus mendesak (seperti ijazah tertahan atau kebutuhan sekolah).

Mencegah Sebelum Fatal

Mensos sangat menyayangkan kasus Mandala yang masuk dalam kategori exclusion error atau warga yang berhak namun tak terdata. Menurutnya, jika data keluarga Mandala terinput sejak awal, pemerintah bisa melakukan intervensi sebelum luka di kaki siswa tersebut berujung maut.

“Kalau kita ketahui sebelumnya melalui data, kita bisa melakukan intervensi. Ini pelajaran berharga agar perlindungan sosial benar-benar hadir menyeluruh, tanpa pengecualian,” tambahnya.

Tragedi Mandala menjadi pengingat pahit bahwa di balik angka-angka statistik kemiskinan, ada nyawa yang harus dipertaruhkan jika birokrasi dan validasi data bergerak terlalu lambat. (ant/one)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *