Skenario Kilat Samarinda Tangkis Efek Horor El Nino
Samarinda, nusaetamnews.com : Pemerintah Kota Samarinda nggak mau cuma duduk manis nunggu instruksi dari pusat untuk ngadepin ancaman El Nino, kekeringan, sampai potensi kebakaran hutan dan lahan. Memasuki puncak musim kemarau yang diprediksi BMKG bakal berlangsung sampai akhir tahun, Wali Kota Samarinda Andi Harun langsung tancap gas ngumpulin jajarannya buat nyiapin strategi penanganan dari berbagai sektor. Menurutnya, langkah mitigasi harus beneran berwujud aksi nyata di lapangan, bukan sekadar urusan administrasi di atas kertas.
Setiap sektor sekarang diminta buat memetakan status kedaruratan mulai dari normal, waspada, siaga, sampai kritis. Langkah ini diambil supaya alokasi anggaran mitigasi bisa makin tepat sasaran. Soal urusan air bersih, Perumda Tirta Kencana ngerilis laporan kalau stok air masih aman. Kadar klorida di Palaran saat air pasang ada di angka 102 PPM, masih jauh di bawah batas darurat 250 PPM. Tapi buat jaga-jaga kalau air laut mendadak naik ke intake air baku, camat dan lurah setempat udah diminta buat mendata sumur bor warga yang bisa dipakai bareng-bareng kalau kondisi makin krisis.
Kondisi agak menantang justru kelihatan di sektor pertanian. Ada sekitar 654,5 hektare lahan yang mulai terdampak kekeringan, merembet ke tanaman padi, jagung, sayur, sampai umbi-umbian. Meski belum sampai panen gagal total karena sebagian petani udah mulai petik hasil, ancaman baru mengintai di musim tanam berikutnya. Kasus paling berat ada di Pulau Atas gara-gara air laut nyusup ke sistem irigasi pasang surut. Biar masalah nggak makin berlarut, pemkot menyiapkan bantuan pompa air, tangki BPBD, sampai opsi bikin sumur bor baru. Bahkan ada wacana memanfaatkan air kolam bekas tambang buat irigasi, asal udah lewat uji laboratorium Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian dulu.
Bukan cuma urusan perut dan air, urusan bencana dan kesehatan juga ikut jadi sorotan utama. Aparat kelurahan dan kecamatan diminta rajin patroli titik panas bareng TNI dan Polri, plus tetap waspada sama potensi kebakaran di pemukiman padat akibat angin kencang. Di sisi lain, Dinas Kesehatan ngeremind soal tren kenaikan kasus ISPA, asma, dan pneumonia. Data medis ini nantinya bakal dicocokin sama indeks kualitas udara dari Dinas Lingkungan Hidup buat ngebuktiin dampaknya secara presisi.
Buat menjaga stabilitas pangan, pemkot fokus nahan laju harga cabai dan bawang lewat pola tanam bertahap dan rencana ngebangun gudang pendingin. Semua pembiayaan taktis ini bakal ditutup pakai dana Belanja Tidak Terduga. Wali kota menegaskan semua OPD nggak perlu takut menggunakan anggaran yang ada, asal setiap rupiah yang keluar punya justifikasi teknis yang kuat dan transparan biar nggak memicu masalah hukum di kemudian hari. (ant/one)