Subscribe

Riset Brida Kaltim: Padang Lamun Kaltim Punya Potensi Raksasa Simpan Karbon Biru

Samarinda, nusaetamnews.com : Hasil penelitian terbaru dari Badan Riset dan Inovasi Daerah Kalimantan Timur (Brida Kaltim) mengungkap fakta menarik. Ekosistem padang lamun di wilayah pesisir Kaltim ternyata menyimpan potensi luar biasa sebagai penyimpan karbon biru (blue carbon), dengan stok karbon pada sedimen di salah satu lokasi riset mencapai angka fantastis, yaitu sekitar 383,78 ton karbon per hektare.

Kepala Brida Kaltim Fitriansyah mengungkapkan bahwa temuan ini merupakan bagian dari penelitian berkelanjutan bertajuk Blue Carbon Research Series dengan fokus “Restorasi Lamun sebagai Upaya Peningkatan Carbon Storage di Provinsi Kaltim” yang digarap bersama mitra peneliti.

Riset ini sendiri berjalan secara bertahap sejak 2024 hingga 2026. Dari sederet lokasi yang diteliti, stok karbon sedimen tertinggi ditemukan di Pulau Miang Kecil, Kabupaten Kutai Timur, dengan angka sekitar 383,78 ton C/ha. Tak kalah mengesankan, wilayah Kutai Kartanegara mengekor di posisi berikutnya dengan potensi mencapai sekitar 381,13 ton C/ha.

Data tersebut makin mempertegas bahwa kekuatan utama ekosistem lamun dalam menyerap karbon justru bukan berasal dari fisik atau tegakan tanamannya saja, melainkan dari endapan karbon yang menumpuk subur di dalam sedimennya.

Sebagai pembanding, stok karbon pada tegakan lamunnya sendiri relatif lebih kecil. Nilai tertinggi berada di Pulau Malangin sebesar 4,19 ton C/ha, sementara di Pulau Miang Kecil tercatat sekitar 2,18 ton C/ha. Endapan karbon di sedimen inilah yang memegang peranan krusial dalam rantai fungsi ekosistem karbon biru.

Secara keseluruhan, Benua Etam menyimpan sekitar 7.225,6 hektare padang lamun yang tersebar luas di lima kabupaten/kota, yakni Berau, Kutai Timur, Bontang, Kutai Kartanegara, hingga Balikpapan.

Menariknya lagi, dari 13 spesies lamun yang ada di Indonesia, 10 jenis di antaranya bisa ditemukan di perairan Kaltim. Spesies tersebut meliputi Enhalus acoroides, Thalassia hemprichii, Halophila ovalis, Halophila minor, Halodule pinifolia, Halodule uninervis, Cymodocea rotundata, Cymodocea serrulata, Syringodium isoetifolium, dan Thalassodendron ciliatum.

Pria yang akrab disapa Pipit ini menambahkan, hasil riset ini menjadi fondasi penting untuk mendorong aksi restorasi lamun sebagai pendekatan berbasis alam (nature-based solutions) dalam menghadapi ancaman perubahan iklim global.

Langkah restorasi dinilai sangat mendesak karena keberadaan padang lamun tak sekadar urusan serap-menyerap karbon semata. Ekosistem ini juga menjadi rumah, penyedia nutrisi, sekaligus benteng perlindungan bagi berbagai biota laut di perairan Kalimantan Timur. (ant/one)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *