Kaltim Tak Mau Lagi Jual Bahan Mentah, Maloy-Kariangau Disiapkan Jadi Magnet Investor Global
Jakarta, nusaetamnews.com : Kalimantan Timur mulai mengubah strategi investasi. Kekayaan sumber daya alam tak lagi cukup hanya diambil dan dijual sebagai bahan mentah. Pemprov Kaltim kini mendorong kawasan industri dan hilirisasi agar nilai ekonomi dari sumber daya tersebut tetap berputar di daerah.
Wakil Gubernur (Wagub) Kaltim Dr H Seno Aji mengatakan Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Maloy Batura Trans Kalimantan (MBTK) dan Kawasan Industri Kariangau (KIK) Balikpapan harus menjadi pintu masuk investasi berskala internasional sekaligus pusat pengolahan bahan mentah menjadi produk bernilai tambah.
Kaltim, kata Seno, memiliki modal besar untuk itu. Mulai dari hasil tambang hingga komoditas perkebunan seperti kelapa sawit, seluruhnya menjadi potensi yang bisa ditawarkan kepada investor.
“Kita punya bahan baku, kawasan industri, dan posisi geografis yang strategis. Tinggal bagaimana kita lebih agresif menawarkan potensi itu kepada investor,” kata Seno usai menghadiri pembukaan Central Java Investment Business Forum (CJIBF) 2026 di Hotel Bidakara Jakarta, Kamis (27/8/2026).
Ia meminta perangkat daerah tidak hanya menunggu investor datang. Promosi investasi harus dilakukan secara aktif, termasuk membuka komunikasi dengan kedutaan besar dan calon investor dari berbagai negara.
Menurutnya, pola jemput bola menjadi penting karena persaingan antardaerah dalam merebut investasi semakin ketat. Kaltim harus mampu menunjukkan keunggulan yang konkret, mulai dari ketersediaan bahan baku, kawasan industri hingga kepastian informasi bagi investor.
Sinyal percepatan itu salah satunya ditunjukkan melalui rencana groundbreaking proyek industri metanol di Kaltim. Proyek tersebut diharapkan menjadi bagian dari penguatan industri hilir sekaligus membuka ruang ekonomi baru di daerah.
Seno menegaskan, investasi yang dikejar bukan sekadar mengejar angka penanaman modal. Dampak akhirnya harus terasa pada ekonomi masyarakat, terutama melalui penciptaan lapangan kerja dan tumbuhnya aktivitas usaha baru.
“Investasi jangan berhenti pada angka. Kita ingin ada industri yang tumbuh, lapangan kerja terbuka, dan masyarakat Kaltim ikut menikmati nilai tambahnya,” tegasnya.
Pemprov Kaltim juga berkomitmen membuka data potensi daerah secara lebih transparan agar investor memiliki gambaran yang jelas mengenai peluang yang tersedia.
Dengan optimalisasi Maloy dan Kariangau, Kaltim ingin naik kelas. Dari daerah penghasil bahan mentah menjadi daerah yang mampu mengolah, memproduksi, dan menikmati nilai tambah investasinya sendiri. (le)