Bye Tambang! Kukar Gaspol Transformasi Jadi Raksasa Pangan & Industri Hijau
Tenggarong, nusaetamnews.com : Kutai Kartanegara (Kukar) resmi tancap gas meninggalkan ketergantungan pada sektor migas dan batu bara. Di bawah komando Pemkab Kukar, kabupaten ini tengah bertransformasi menjadi lumbung pangan strategis guna menyambut kehadiran Ibu Kota Nusantara (IKN).
Wakil Bupati Kukar, Rendi Solihin, menegaskan bahwa fokus pembangunan kini bergeser dari fase “Kukar Idaman 2021-2026” menuju visi yang lebih gahar: “Kutai Kartanegara Idaman Terbaik 2025-2029”.
Visi Baru: Pusat Pangan & Industri Hijau
Bukan sekadar jargon, fase “Idaman Terbaik” ini membawa misi spesifik untuk membangun fondasi pariwisata dan industri hijau yang berkelanjutan. Tujuannya jelas: melakukan transisi ekonomi dari sektor ekstraktif ke sumber daya terbarukan (renewable resources).
“Fokus kami adalah hilirisasi pertanian dan kemandirian ekonomi desa. Kami ingin pertumbuhan ekonomi dirasakan langsung oleh masyarakat di lapisan terbawah,” ujar Rendi di Tenggarong, Sabtu (04/04).
Kuasai Produksi Padi, Kukar Nomor Satu di Kaltim
Strategi “pindah haluan” ini mulai membuahkan hasil manis. Berdasarkan data tahun 2025, Kukar mengukuhkan diri sebagai raja padi di Kalimantan Timur, mengalahkan kabupaten tetangga dengan selisih yang cukup jauh.
Rapor Produksi Padi Kaltim 2025 (Gabah Kering Giling):
- Kutai Kartanegara: 110,87 ton GKG (Terbanyak!)
- Kabupaten Paser: 67,65 ton GKG
- Penajam Paser Utara (PPU): 47,58 ton GKG
Tak hanya soal hasil panen, Kukar juga mendominasi kepemilikan lahan produktif. Dari total 66.518 hektare luas panen di Kaltim, Kukar menyumbang lahan terluas mencapai 26.287 hektare.
Kolaborasi Desa: Dana Desa untuk Lumbung Pangan
Kunci kesuksesan transformasi ini ada pada sinergi dengan pemerintah desa. Pemkab Kukar mendorong optimalisasi 20 persen Dana Desa khusus untuk Program Ketahanan Pangan Nasional.
Implementasi nyata terlihat di Desa Mulawarman, Kecamatan Tenggarong Seberang, yang baru saja menggelar panen raya pada akhir Maret lalu. Keberhasilan ini disebut Rendi sebagai buah kolaborasi solid antara Kementerian Pertanian, Pemkab, hingga pemerintah desa.
“Berkat kerja sama semua pihak, produksi padi Kukar menjadi yang terbanyak di Kaltim. Ini fondasi kuat agar kita tidak lagi bergantung pada pasokan pangan dari daerah lain,” tutup Rendi optimis.(ant/one)