Bukan Cuma Pajang Barang Antik! Kaltim Matangkan Rencana Borneo Culture Museum Berbasis Digital
Samarinda, nusaetamnews.com : Langkah konkret menjaga local identity di tengah masifnya pembangunan Ibu Kota Nusantara (IKN) terus dimatangkan Pemerintah Provinsi Kalimantan Timur. Lewat kolaborasi bareng Kemenko PMK dan Kementerian Kebudayaan, Pemprov Kaltim siap menghadirkan Museum Budaya Kalimantan—sebuah cultural hub modern yang bakal jadi benteng kelestarian warisan leluhur Borneo.
Kepala Badan Riset dan Inovasi Daerah (Brida) Kaltim, Fitriansyah, menegaskan kalau kunci utama proyek ini ada di pematangan konsep dasar sebelum masuk ke tahap pembangunan fisik.
“Sebelum bangun fisik, paling penting itu menentukan konsepnya karena itulah yang jadi ‘roh’ museum. Kita mau bikin museum berkarakter kuat yang mengawinkan teknologi digital, multimedia interaktif, dan koleksi artefak otentik,” ujar Fitriansyah usai rapat pembahasan di Kantor Gubernur Kaltim, Rabu.
Terinspirasi dari museum-museum kelas dunia yang sukses memadukan sejarah dan inovasi modern, museum ini diproyeksikan jadi etalase budaya terbesar di Tanah Kalimantan. Fokus utamanya? Studi etnografi mendalam seputar kehidupan suku-suku asli Borneo.
Bikin Aset Idle Jadi Space Edukatif
Tak sekadar tempat pajang barang antik, hadirnya museum ini punya peran strategis dalam timeline pembangunan daerah. Kepala Bagian Non-Pelayanan Dasar Biro Kesra Setda Kaltim, Mispoyo, menyebut keberadaannya tak hanya mendongkrak Indeks Pembangunan Kebudayaan (IPK) Kaltim, tapi juga memproteksi nilai-nilai lokal dari gempuran arus modernisasi IKN.
Menariknya, salah satu opsi lokasi yang paling menguat—dan dapat lampu hijau dari Kementerian Kebudayaan—adalah memanfaatkan eks-terminal Bandara Sultan Aji Muhammad Sulaiman (SAMS) Sepinggan, Balikpapan. Langkah smart ini dinilai ampuh mengubah aset negara yang nganggur (idle) menjadi ruang publik kreatif bernilai edukasi tinggi.
Tawarkan Tiga Aspek Utama
Beda dari museum konvensional, proyek yang sempat dicetuskan dengan nama Borneo Culture Museum ini dirancang super komprehensif lewat tiga pilar utama:
- Gastronomi: Mengupas tuntas kekayaan kuliner tradisional dan resep ketahanan pangan lokal.
- Ekologi & Biodiversitas: Menampilkan edukasi visual serta replika keanekaragaman hayati hutan tropis Kalimantan.
- Ekspresi Budaya: Menjadi living stage bagi seni pertunjukan, hukum adat, sastra lisan, hingga identitas visual khas Borneo.
Roadmap Pembangunan
Gagasan ini sendiri mulai digarap intens sejak Juni 2026 melalui pertemuan perdana Pemprov Kaltim dan Kementerian Kebudayaan untuk mengkaji ide dasar serta potensi venue di Balikpapan.
Memasuki Juli 2026, koordinasi diperluas bareng Kemenko PMK. Di fase ini, Brida Kaltim bersama Balai Pelestarian Kebudayaan mulai merumuskan ‘roh’ museum, integrasi teknologi digital, sistem tata kelola, hingga legalitas pemanfaatan eks-terminal bandara tersebut. (ant/one)