Subscribe

Bukan Cuma ISPA, Kemarau di Kaltim Juga Intai Warga dengan Diare dan DBD

3 minutes read

SAMARINDA – Ancaman kesehatan akibat musim kemarau dan kabut asap karhutla di Kalimantan Timur (Kaltim) tak boleh dipandang sebelah mata. Selain infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) dan pneumonia akibat buruknya kualitas udara, masyarakat juga dibayangi risiko diare dan demam berdarah dengue (DBD).
Dinas Kesehatan (Dinkes) Kaltim mengingatkan masyarakat agar meningkatkan kewaspadaan. Sebab, dampak kemarau bukan hanya soal udara yang tercemar asap, tetapi juga menyangkut ketersediaan air bersih, sanitasi, hingga potensi penyebaran penyakit.
Kepala Dinkes Kaltim Andi Muhammad Ishak mengatakan, partikel halus dalam kabut asap dapat mengancam kesehatan, terutama jika terhirup secara terus-menerus.
Masyarakat yang tetap harus beraktivitas di luar rumah saat kualitas udara memburuk diminta menggunakan masker untuk mengurangi paparan asap.
“Saran kami, masyarakat jangan terlalu menganggap enteng cuaca asap saat ini. Ini nyata, ada ancaman bahaya terkait partikel-partikel halus yang terhirup,” kata Andi, Kamis (15/10/2026).
Peringatan tersebut bukan tanpa alasan. Berdasarkan data yang dipaparkan Wakil Gubernur Kaltim Seno Aji, akumulasi kasus ISPA di Kaltim mencapai sekitar 13.000 kasus selama periode laporan khusus karhutla, 27 Juli hingga 15 September 2026.

Andi mengakui, memburuknya kualitas udara akibat asap karhutla turut diikuti peningkatan kasus penyakit pernapasan. Selain ISPA, pneumonia juga menjadi ancaman yang perlu diwaspadai, terutama bagi anak-anak dan lanjut usia.
“Secara data memang ada peningkatan. Dampak asap ini memengaruhi peningkatan kasus ISPA dan pneumonia,” jelasnya.
Air Bersih Terbatas, Risiko Diare Mengintai
Namun, ancaman kesehatan selama musim kemarau tidak berhenti pada gangguan pernapasan.
Menurut Andi, keterbatasan air bersih dapat memicu persoalan sanitasi yang berujung pada meningkatnya risiko penyakit diare. Ketika pasokan air menipis, masyarakat bisa kesulitan memenuhi kebutuhan air untuk konsumsi maupun menjaga kebersihan sehari-hari.
Karena itu, masyarakat perlu memastikan air yang digunakan untuk minum dan mengolah makanan aman, sekaligus menjaga kebersihan tangan serta lingkungan.
Di sisi lain, kebiasaan menampung air untuk mengantisipasi kekurangan pasokan juga perlu mendapat perhatian. Jika dibiarkan terbuka atau tidak dibersihkan secara rutin, wadah penampungan dapat menjadi tempat berkembang biaknya nyamuk Aedes aegypti, pembawa virus dengue penyebab DBD.
Artinya, upaya menghemat dan menyimpan air selama kemarau harus tetap diiringi dengan pengelolaan penampungan yang benar.
Masyarakat diminta rutin menguras tempat penampungan air, menutup wadah penyimpanan, serta menyingkirkan barang-barang yang berpotensi menampung air hujan.
Langkah sederhana tersebut penting untuk menekan perkembangbiakan nyamuk sekaligus mengurangi risiko penularan DBD.

Puskesmas Disiagakan
Di tengah ancaman berbagai penyakit tersebut, Dinkes Kaltim memastikan fasilitas pelayanan kesehatan dasar di seluruh kabupaten dan kota tetap siaga.
Kesiapan itu mencakup dukungan sarana dan prasarana medis serta ketersediaan obat-obatan di puskesmas untuk menangani warga yang mengalami gangguan kesehatan.
Andi berharap masyarakat tidak menunggu kondisi memburuk untuk mencari pertolongan medis, terutama jika mengalami gangguan pernapasan setelah terpapar asap atau gejala penyakit lainnya.
“Insyaallah sampai saat ini masih bisa kita tangani dengan baik, dan kita semua berharap kondisi asap ini segera membaik,” pungkasnya.
Di tengah kemarau dan karhutla yang belum sepenuhnya mereda, kewaspadaan masyarakat menjadi kunci. Menggunakan masker saat udara tercemar, menjaga keamanan air minum, memperbaiki sanitasi, dan memberantas sarang nyamuk merupakan langkah penting untuk mencegah dampak musim kemarau berkembang menjadi krisis kesehatan yang lebih luas.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *