Subscribe

69 Hari Tak Tersentuh Hujan, Paser Dikepung Ancaman Kekeringan Ekstrem

3 minutes read

Samarinda – Langit boleh masih menyisakan peluang hujan, tetapi air yang turun belum cukup untuk membasahi Kaltim. Di tengah prakiraan hujan berintensitas rendah hingga 10 Oktober 2026, kekeringan ekstrem justru mulai mengintai sejumlah kawasan.

Paling mencolok terjadi di Batu Enggau, Kabupaten Paser. Di wilayah ini, hujan tak turun selama 69 hari berturut-turut.
Catatan hari tanpa hujan (HTH) tersebut menjadi salah satu sinyal paling keras bahwa sebagian wilayah Kalimantan Timur tengah menghadapi periode kering berkepanjangan.

Kepala Stasiun Meteorologi Kelas III APT Pranoto Samarinda, Riza Arian Noor, mengatakan sebagian besar wilayah Kaltim pada periode 1–10 Oktober 2026 diprakirakan hanya memperoleh curah hujan 0–50 milimeter.

“Prediksi deterministik curah hujan menunjukkan bahwa sebagian besar wilayah Provinsi Kalimantan Timur diprediksi akan mengalami curah hujan kategori rendah, kecuali beberapa wilayah di bagian barat laut,” ujar Riza, Kamis (1/10/2026).

Yang menarik, peluang hujan sebenarnya masih terbuka lebar. Di sebagian besar wilayah Kaltim, probabilitas terjadinya hujan diperkirakan lebih dari 90 persen.
Namun, tingginya peluang hujan itu tidak otomatis berarti persoalan kekeringan selesai.
Sebab, yang menjadi persoalan bukan semata-mata apakah hujan turun, melainkan seberapa banyak air yang benar-benar jatuh ke tanah.
Hujan dengan intensitas rendah bisa datang, tetapi belum tentu mampu mengisi kembali sumber air yang menyusut setelah berhari-hari tanpa hujan.
Paser Paling Panjang
Catatan HTH memperlihatkan kondisi kekeringan Kaltim tidak berlangsung seragam.
Secara umum, sebagian besar wilayah masih berada dalam kategori HTH sangat pendek, yakni 1–5 hari. Tetapi di sejumlah titik, rentang tanpa hujan melonjak jauh di atas angka tersebut.
Batu Enggau, Paser, menjadi titik paling ekstrem dengan 69 hari tanpa hujan.
Kondisi HTH ekstrem juga terpantau di sejumlah wilayah Kutai Kartanegara dan Samarinda.
Angka tersebut menunjukkan adanya kantong-kantong kekeringan yang jauh lebih serius dibanding gambaran umum kondisi Kaltim.
Barat Laut Kaltim Lebih Basah
Tidak seluruh Kaltim berada di bawah tekanan yang sama.
Sejumlah wilayah di bagian barat laut justru diprakirakan mendapat curah hujan kategori menengah, sekitar 50–75 milimeter.
Wilayah tersebut meliputi bagian barat Kabupaten Berau, barat laut Kutai Timur, serta sebagian wilayah barat Mahakam Ulu.
Namun secara umum, sifat hujan di Kaltim masih didominasi kategori bawah normal, dengan kisaran 0–50 persen.
Hanya sebagian kecil wilayah Berau bagian barat dan Kutai Timur bagian barat laut yang diprakirakan berada dalam kategori normal, yakni 84–115 persen.
Dengan kata lain, Kaltim memang belum sepenuhnya tanpa hujan. Tetapi distribusi dan jumlah air yang diterima setiap wilayah berbeda jauh.
Jangan Terkecoh Hujan Turun
BMKG mengingatkan masyarakat agar tidak hanya menggunakan ukuran sederhana: hari ini hujan atau tidak.
Durasi hari tanpa hujan dan akumulasi curah hujan justru menjadi indikator penting untuk melihat tekanan kekeringan di suatu wilayah.
Apalagi bagi kawasan yang sudah mengalami puluhan hari tanpa hujan seperti Batu Enggau.
69 hari bukan lagi sekadar langit yang mendung tanpa air. Itu adalah alarm bahwa kekeringan telah berlangsung panjang.
Perkembangan cuaca pun perlu terus dipantau, terutama di wilayah yang menghadapi HTH ekstrem. Kondisi tersebut berpotensi berpengaruh terhadap ketersediaan air dan lingkungan apabila periode kering terus berlanjut.
Kaltim masih punya peluang hujan. Tetapi untuk wilayah yang sudah puluhan hari menunggu air dari langit, peluang hujan dan hujan yang benar-benar cukup adalah dua hal yang berbeda.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *