Subscribe

Menagih Janji Langit Biru dan Air Jernih di Kota Tepian

3 minutes read

SETIAP pagi, warga Kota Samarinda menyambut hari bukan dengan kesegaran angin sungai, melainkan aroma debu lanskap perkotaan yang berpacu dengan alih fungsi lahan dan ancaman kabut asap musiman. Di kota yang membelah keanggunan Sungai Mahakam ini, tersimpan kerinduan kolektif yang kian menguat di hati warganya: merindukan hirupan udara segar tanpa jelaga serta aliran air bersih yang bening dan tak pernah tersendat.

Dari teras rumahnya di kawasan Sambutan, Pak Rahmad (52) sering menatap ke arah perbukitan yang kini menyisakan ceruk-ceruk bekas galian batu bara. Bagi pria yang telah menetap lebih dari tiga dekade di Kota Samarinda ini, akumulasi polusi tambang dan bencana kebakaran hutan serta lahan (karhutla) semakin merenggut kenyamanan hidupnya.

“Dulu kalau pagi anginnya sejuk, ada aroma khas pepohonan basah. Sekarang kalau musim kemarau, debu hitam menempel sampai ke dalam rumah. Ditambah lagi kalau ada kebakaran hutan di sekitar Kalimantan, asap tebal langsung menyelimuti kota. Jarak pandang terbatas, napas terasa berat, dan air sungai pun makin keruh,” tuturnya penuh penyesalan.”

Masalah krisis udara segar dan ketersediaan air bersih di Samarinda bukanlah isu tunggal, melainkan jalinan benang kusut yang melibatkan berbagai lini kehidupan. Mengurai persoalan ini membutuhkan pembacaan dari beragam sudut pandang yang saling bertolak belakang namun saling mempengaruhi.

  • Sudut Pandang Bencana Karhutla & Kualitas Udara: Kebakaran hutan dan lahan yang berulang saat musim kemarau menjadi pemicu utama memburuknya indeks standar pencemar udara (ISPU). Paparan asap karhutla yang membawa partikel halus (PM2.5) tercipta begitu pekat hingga terhirup langsung oleh warga setiap hari. Kategori udara kerap melonjak ke level tidak sehat, membatasi jarak pandang sekaligus menciptakan ancaman kesehatan laten yang merata di seluruh penjuru kota.
  • Sudut Pandang Lingkungan & Ekologi: Eksploitasi lahan skala besar serta terbakarnya vegetasi di kawasan penyangga kota telah memangkas drastis daya dukung lingkungan. Musnahnya pepohonan menghilangkan penyerapan emisi karbon dan penahan erosi alami. Dampaknya, laju sedimentasi ke badan anak sungai memicu pendangkalan massal yang merusak ekosistem air.
  • Sudut Pandang Kesehatan Publik: Tenaga medis lokal mencatat lonjakan tajam kasus Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA), asma, hingga iritasi mata setiap kali asap karhutla dan debu industri menyelimuti pemukiman. Kelompok rentan seperti bayi, anak-anak, dan lansia menjadi pihak yang paling dirugikan karena harus terkurung di dalam rumah demi menghindari udara beracun.
  • Sudut Pandang Pengolahan Air (Operasional PDAM): Dari sisi teknis distribusi air minum, tingkat kekeruhan (NTU) Sungai Mahakam yang melampaui ambang batas wajar akibat endapan lumpur dan sisa debu pembakaran memaksa instalasi pengolahan air bekerja ekstra keras. Proses sedimentasi dan filtrasi membutuhkan pasokan bahan kimia pengolah air dalam porsi jauh lebih besar, yang acap kali berujung pada penghentian produksi sementara.
  • Sudut Pandang Kebijakan & Pembangunan: Di sisi lain, pemerintah daerah dihadapkan pada dilema kompleks. Sebagai kota penyangga utama Ibu Kota Nusantara, Samarinda dituntut menjaga pertumbuhan ekonomi dan ketahanan kawasan. Namun, mitigasi kebakaran hutan, penegakan hukum bagi pembakar lahan, serta penataan tata ruang kerap berbenturan dengan keterbatasan pengawasan di lapangan.

Masyarakat Samarinda pada dasarnya tidak meminta kemewahan yang berlebihan. Kerinduan mereka berakar pada hak paling mendasar sebagai warga negara: bernapas lega tanpa diintai bahaya asap serta mengonsumsi air jernih tanpa diselimuti kekhawatiran akan dampak kesehatan jangka panjang.

Masa depan Kota Tepian kini bertumpu pada ketegasan pencegahan karhutla, komitmen reklamasi lahan, serta percepatan revitalisasi Daerah Aliran Sungai (DAS) Mahakam. Warga Samarinda menanti datangnya hari di mana anak-cucu mereka dapat kembali menyaksikan langit biru yang bersih dari asap serta menikmati kembali kesegaran air tanah kelahiran mereka. Setia Wirawan

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *