Subscribe

Dr HARUM Bukan KDM

2 minutes read

Ada yang menarik saat Gubernur Kaltim Dr H Rudy Mas’ud melakukan peninjauan aset-aset daerah secara estafet, Rabu 9 September 2026.

Gubernur Rudy Mas’ud datang dengan atribut resmi seperti biasa. Pakaian dinas pada hari itu, putih lengan panjang dan celana hitam.

Tanda jabatan berbentuk lencana lingkaran emas besar bermotif burung Garuda Pancasila dipasang di saku dada sebelah kanan. Ada juga tanda pangkat kepala daerah yang terpasang di lidah baju (ujung kerah) berbentuk melati emas tiga. Sisi kanan dan kiri.

Sementara lencana Korpri berwarna emas di pasang di atas saku kiri. Seperti biasa di atas saku sebelah kanan terpasang papan nama dengan tulisan hitam dan latar bahan kuning.

Tapi kali ini, sedikit berbeda. Tidak seperti biasanya. Gubernur Rudy Mas’ud memilih menggunakan papan nama bertuliskan Dr HARUM. Biasanya hanya tertulis HARUM. Yaitu akronim dari Haji Rudy Mas’ud.

Apakah dengan ‘nama baru’ yang disematkan itu Gubernur Rudy Mas’ud sedang ingin mengajukan indentitas anyar dengan sebutan Dr HARUM? Entahlah.

Yang pasti Dr HARUM adalah sebuah akronim, sedangkan KDM adalah singkatan dari Kang Dedi Mulyadi yang Gubernur Jawa Barat alias Bapak Aing. Panggilan yang dilabelkan karena kepemimpinannya yang merakyat.

Yang lebih pasti lagi, lebih dari sekadar nama baru Dr HARUM, dari siang hingga sore itu, Gubernur Rudy Mas’ud sedang menyisir dua aset Pemprov Kaltim yang potensial untuk dikembangkan menjadi sumber pendapatan asli daerah (PAD), Hotel Claro Pandurata dan Mal Lembuswana. Apalagi, setelah pemangkasan dana Transfer ke Daerah (TKD), semua daerah dituntut lebih kreatif menggali sumber-sumber penerimaan daerah.

Karena itu, Hotel Claro Pandurata dan Mal Lembuswana akan disulap makin cantik dan menarik, semakin diminati pengunjung, ekonomi bergerak dan sumber-sumber PAD makin kencang mengucur.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *