Subscribe

Kabut Asap Karhutla Memburuk, DPR Minta Sekolah di Kaltim Beradaptasi Gelar Belajar dari Rumah

2 minutes read

Samarinda, nusaetamnews.com : Anggota Komisi VIII DPR RI daerah pemilihan Kalimantan Timur Hetifah Sjaifudian mengingatkan dinas pendidikan bersama pihak sekolah untuk segera beradaptasi dalam proses belajar mengajar saat kondisi udara memburuk akibat kebakaran hutan dan lahan. Keselamatan dan kesehatan peserta didik wajib menjadi prioritas utama dengan menerapkan skema belajar dari rumah.

Hetifah menegaskan bahwa dalam situasi bencana, sekolah harus bersikap fleksibel agar hak belajar anak tetap terpenuhi tanpa mengorbankan kesehatan mereka. Penghentian sementara pembelajaran tatap muka bukan berarti mengurangi kadar pentingnya pendidikan, melainkan bentuk perlindungan nyata.

Saat ini, kebijakan belajar dari rumah sudah mulai diterapkan di sejumlah wilayah Kalimantan Timur, seperti Kabupaten Berau, Kabupaten Mahakam Ulu, hingga Kecamatan Long Ikis di Kabupaten Paser. Di Kabupaten Berau sendiri, kebijakan tersebut mencakup 37 satuan pendidikan jenjang SMA, SMK, dan SLB dengan total 11.864 siswa, bahkan telah mengalami dua kali perpanjangan masa berlaku.

Langkah cepat pemerintah daerah yang berpijak pada data kualitas udara mendapat apresiasi tinggi. Keputusan tegas dinilai sangat penting agar tidak perlu menunggu bertambahnya jumlah anak yang mengalami gangguan kesehatan akibat paparan asap.

Pemerintah daerah dapat mengacu pada Surat Edaran Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Nomor 20 Tahun 2026. Dalam edaran tersebut, angka Indeks Standar Pencemar Udara pada rentang 101 hingga 200 sudah masuk kategori tidak sehat sehingga pembelajaran tatap muka wajib dibatasi. Sementara jika ISPU menembus angka 201 hingga 300, aktivitas belajar tatap muka dihentikan total dan dialihkan ke pembelajaran jarak jauh.

Penanganan karhutla dinilai tidak boleh sebatas berfokus pada pemadaman titik api. Kabut asap yang menembus pemukiman berpotensi mengganggu pernapasan, menurunkan produktivitas ekonomi, hingga menghambat pendidikan. Kondisi ini menuntut koordinasi lintas sektor yang solid antara BPBD, dinas kesehatan, dinas pendidikan, serta instansi terkait lain untuk memberi kepastian dan rasa aman bagi para orang tua.

Kendati demikian, pelaksanaan belajar dari rumah juga menyimpan tantangan tersendiri terkait keterbatasan perangkat, akses internet, dan kondisi lingkungan tempat tinggal siswa. Dinas pendidikan dan sekolah diimbau menyiapkan skema belajar yang adaptif, baik secara daring maupun luring, agar perlindungan dari ancaman bahaya asap tidak membuat sebagian siswa tertinggal dalam materi pelajaran. Pemda juga diharapkan terus mempublikasikan pembaruan data kualitas udara secara transparan sebagai rujukan bersama. (ant/one)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *