Subscribe

Restorasi Mangrove Buat Tambak Berau Makin Cuan, YKAN Libatkan Puluhan Petambak

2 minutes read

Samarinda, nusaetamnews.com : Yayasan Konservasi Alam Nusantara menggandeng 22 petambak di Kabupaten Berau untuk merealisasikan konsep ekonomi biru yang digagas Kementerian Kelautan dan Perikanan. Langkah ini ditempuh untuk menjaga keseimbangan antara keberlanjutan ekosistem pesisir dan tingkat pendapatan masyarakat.

Direktur Program Kelautan YKAN, Muhammad Ilman, mengungkapkan bahwa pengelolaan tambak ramah lingkungan berbasis pendekatan Shrimp Carbon Aquaculture berhasil mendongkrak hasil panen warga. Rata-rata produktivitas tambak melonjak hingga 15 persen dibanding lahan yang sebelumnya tidak ditanami mangrove.

Saat ini program SECURE di Berau telah merangkul 22 pembudidaya yang mengelola lahan seluas 240 hektar. Pengembangan sektor perikanan tersebut diintegrasikan langsung dengan aksi restorasi mangrove seluas 87 hektar.

Ilman menjelaskan bahwa kunci keberhasilan di Berau terletak pada penataan ulang desain tambak, pengelolaan sistem hidrologi, serta restorasi mangrove secara terpadu. Penggabungan strategi ini terbukti efektif menaikkan volume panen sekaligus menjaga daya dukung lingkungan.

Untuk memperkuat pijakan ekonomi biru nasional, Konsorsium Riset dan Inovasi untuk Indonesia Maju-KONEKSI telah menyerahkan risalah kebijakan Kerangka Akuakultur Berkelanjutan kepada Menteri Kelautan dan Perikanan, Sakti Wahyu Trenggono, pada akhir Juli lalu. Konsorsium lintas lembaga ini melibatkan ITB, Monash University Australia, BRIN, dan YKAN lewat dukungan kemitraan pemerintah Indonesia dan Australia.

Dokumen kebijakan tersebut dirancang guna memberikan masukan strategis bagi KKP dalam menyeimbangkan target produksi udang nasional dengan perlindungan mangrove. Hal ini krusial mengingat tambak air payau ekstensif di Indonesia kerap mengalami penurunan produktivitas akibat degradasi lingkungan.

Kerangka kerja akuakultur berkelanjutan tersebut melandasi program Integrated Sustainable Mangrove-Carbon Aquaculture di Berau untuk periode 2025–2027, yang merupakan fase kelanjutan dari program SECURE sejak 2022.

Melalui integrasi empat dimensi—biofisik dan iklim, keanekaragaman hayati, sosial-ekonomi, serta tata kelola—kawasan budidaya udang dan restorasi mangrove dirancang dalam satu lanskap terpadu. Pendekatan ini tidak hanya menaikkan nilai ekonomi petambak, tetapi juga memperkuat fungsi mangrove sebagai penyerap karbon biru dan pelindung kawasan pesisir. (ant/one)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *