Cara Rudy Berbagi, Titip Harta Lewat Sedekah
Samarinda – Di sela agenda meninjau jalan, desa terpencil, hingga pondok pesantren, ada kebiasaan lain yang terus dilakukan Gubernur Kalimantan Timur Rudy Mas’ud. Bukan sekadar meresmikan program atau mendengar laporan, tetapi berbagi secara langsung kepada mereka yang membutuhkan.
Kalimat yang diucapkannya di Hari Lahir ke-34 Pondok Pesantren Assalam Arya Kemuning, Kutai Barat, Sabtu (4/7/2026), menjadi penanda cara pandangnya tentang rezeki.
“Orang bilang harta tidak dibawa mati. Kalau saya, harta mau saya bawa mati. Tapi, saya titip dulu di sini,” ucap Rudy.
Ucapan itu bukan sekadar pemanis pidato. Hari itu ia menyerahkan 10 ekor sapi untuk pondok pesantren. Sang istri, Sarifah Suraidah, anggota Komisi VI DPR RI, juga berkomitmen membantu kebutuhan belajar berupa meja, kursi, dan komputer bagi para santri.
Sebelumnya, hari pertama kunjungan kerja pemandangan serupa terjadi di Lapas Perempuan Kelas IIA Tenggarong. Rudy membagikan bantuan uang tunai Rp200 ribu kepada ratusan warga binaan Lapas Perempuan tersebut.
“Saya bantu buat beli skincare ya,” candanya, disambut tawa para penghuni Lapas.
Momen paling menyentuh terjadi di Desa Muara Tae, Kutai Barat. Setelah menyerahkan bantuan rehabilitasi Rumah Tidak Layak Huni (RTLH), Rudy masih bertanya kepada penerima bantuan, Dedi Simson David.
“Masih ada lagi yang kurang?”
Jawaban yang diterima sederhana, tetapi penuh makna.
“Kami belum punya toilet, listrik juga belum nyambung. Kalau ada juga boleh baju bekas Pak,” ujar Dedi.
Rudy tak menunggu lama. Ia meminta ajudannya mengambil uang tunai dan menyerahkan Rp10 juta saat itu juga.
“Toilet, listrik dan baju baru langsung saya bawakan hari ini. Semua ada di sini,” katanya.
Perjalanan berlanjut ke Desa Deraya, Tanjung Soke, hingga Gerunggung. Selain memastikan pembangunan jalan melalui APBD Kaltim segera berjalan, Rudy kembali mengeluarkan bantuan dari dana pribadinya untuk warga yang ditemuinya.
Di balik kunjungan kerja yang padat, terselip kebiasaan sederhana yang berulang. Melihat, mendengar, lalu memberi. Bagi Rudy Mas’ud, sedekah tampaknya bukan sekadar soal membantu orang lain, melainkan cara menitipkan rezeki untuk bekal yang diyakininya akan tetap bernilai, bahkan ketika perjalanan hidup di dunia telah usai.